Modul Ajar Mulok Keminangkabauan Kelas VIII

BAB I

ADAT SOPAN SANTUN URANG MINANGKABAU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Adat Sopan Santun Duduak, Tagak, dan Bajalan Urang Minangkabau.
    • Pertemuan 2 : Adat Sopan Santun Bakato, Batanyo, dan Manjawek Urang Minangkabau.
    • Pertemuan 3 : Adat Sopan Santun Makan, Bapakaian, dan Ketika Melihat Urang Minangkabau.
    • Pertemuan 4 : Adat Sopan Santun Bagaua dan Kurenah (Perangai) Urang Minangkabau.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Akhlak Tinggi: Menginternalisasi nilai spiritual untuk membentuk pribadi bermoral luhur, rendah hati, lemah lembut, dan selalu berorientasi pada negeri akhirat (QS. Shad: 46 & HR. Ahmad).
    • Kompetensi Kebinekaan Global & Lokal: Memahami dan mengaplikasikan sistem nilai sosial, etika perilaku, serta tata krama tradisional Minangkabau dalam kehidupan bermasyarakat modern.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 1–20.
    • Media Pendukung: Ruang kelas fleksibel (area kursi & lesehan), teks petuah adat (Sandi Materi), mikrofon, kain sarung/jilbab, dan gawai (gadget) untuk simulasi interupsi digital.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Adat Sopan Santun Duduak, Tagak, dan Bajalan

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis, mendemonstrasikan, dan membiasakan tata cara duduk, berdiri, serta berjalan yang memenuhi standar estetika dan kesopanan adat Minangkabau demi menghargai sesama.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa cara kita duduk dan berdiri di Minangkabau bisa mencerminkan kadar penghormatan kita kepada orang lain?”
    • “Di era modern, mengapa fokus saat berjalan (tidak terdistraksi HP) sangat ditekankan oleh petuah adat?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan salam santun, memimpin doa, dan membaca QS. Shad: 46 bersama-sama.
    • Guru melantunkan petuah adat: “Nan kuriak kundi, nan sirah sago. Nan baiak budi, nan endah baso” sebagai jangkar perenungan karakter siswa sebelum memulai sesi.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration: Siswa mengamati postur ergonomis duduk bersimpuh (perempuan) dan bersila (laki-laki). Siswa menghitung dan mempraktikkan sudut kelurusan tulang belakang (±90 derajat) saat duduk di lantai maupun di kursi modern tanpa bersandar, serta mengamati tata letak posisi duduk Mamak Rumah dan Sumando.
    • Gerak & Lagu (Joyful): Siswa melatih keterampilan motorik transisi dari duduk ke posisi berdiri tegap (Sikap Sempurna) secara khidmat saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.
    • Permainan Peran (Role Play): Siswa berpasangan mensimulasikan adab berjalan berkelompok (laki-laki di kiri perempuan/orang tua; suami di kanan istri) serta adab berpapasan dengan sedikit menunduk, tersenyum, dan mengucap salam.
    • Literasi Dasar: Siswa membedakan konsep Sumbang Duo Baleh (larangan) dengan Adat Sopan Santun (anjuran/nilai yang harus dilakukan) melalui pembacaan teks hal. 1–5.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Siswa merenungkan dan menjawab: “Kebiasaan motorik tubuh mana yang paling sulit saya kendalikan hari ini agar sesuai dengan aturan kesopanan duduak, tagak, atau bajalan?”

PERTEMUAN 2: Adat Sopan Santun Bakato, Batanyo, dan Manjawek

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menerapkan etika berkomunikasi dua arah secara santun, mengatur intonasi suara, mengelola interupsi teknologi, serta menempatkan diri dengan baik saat bertanya dan menjawab di ruang publik.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Bagaimana perasaanmu jika sedang berbicara dengan teman, lalu mereka mendadak sibuk mengecek HP tanpa izin?”
    • “Mengapa dalam adat Minangkabau, ketidaktahuan harus dijawab dengan jujur daripada memberikan jawaban ngawur yang terkesan canggih?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam keheningan sejenak, lalu melantunkan petuah: “Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi. Kalau pandai bakato-kato, umpamo santan jo tangguli”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Gestur: Siswa berlatih menghadapkan tubuh (madokan tubuah) secara penuh kepada lawan bicara, menjaga kontak mata untuk membangun integritas, dan menyelaraskan ekspresi wajah.
    • Permainan Peran & Literasi Digital: Siswa mensimulasikan skenario di mana gawai (gadget) berdering di tengah obrolan. Siswa melatih refleks motorik: menghentikan pembicaraan \(\rightarrow \) meminta maaf secara lisan \(\rightarrow \) mengecek sekilas \(\rightarrow \) menyimpan kembali gawai jika tidak darurat untuk menjaga fokus interaksi.
    • Keterampilan Motorik & Numerasi Bicara: Siswa berlatih berbicara dengan intonasi datar terperinci (latak an etongan ciek-ciek). Dalam sesi tanya-jawab, siswa berlatih mengangkat tangan kanan terlebih dahulu dan merumuskan pertanyaan secara ringkas (numerasi: dibatasi maksimal 3 kalimat padat agar tidak melebar seperti cerpen).
    • Etika Manjawek: Siswa berlatih mengendalikan emosi saat menjawab pertanyaan yang memojokkan serta mempraktikkan kalimat jujur: “Maaf, saya tidak tahu, saya bukan ahlinya” jika tidak memahami materi.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Seberapa sering tutur kata kita di media sosial terjebak dalam debat kusir? Apa dampaknya bagi kedamaian hati kita?”

PERTEMUAN 3: Adat Sopan Santun Makan, Bapakaian, dan Ketika Melihat

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membiasakan adab makan yang berkah dan higienis, memilih pakaian yang longgar (lapang) sesuai ketentuan syariat-adat, serta melatih mata untuk menahan pandangan (ghaddul bhashar) dan berprasangka baik.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mendasar antara prinsip ‘menutup aurat’ dengan sekadar ‘membungkus tubuh’?”
    • “Bagaimana kita bisa mengubah refleks mata saat melihat hal-hal negatif di jalanan menjadi sebuah doa kebaikan?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru meminta siswa memeriksa kerapian pakaiannya. Guru mengulas hadis tentang ancaman Allah terhadap orang yang berpakaian berlebih-lebihan/sombong.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Kesehatan: Siswa mengamati rancangan Baju Kuruang Basiba (perempuan) jo Lilik (jilbab) serta Baju Guntiang Cino jo Saruang Bugih (laki-laki). Siswa mendiskusikan korelasi numerasi-biologis mengapa pakaian yang longgar (lapang) memperlancar peredaran darah dan melonggarkan ruang gerak motorik.
    • Keterampilan Praktis: Siswa mempraktikkan simulasi motorik memakai pakaian/sepatu dimulai dari bagian kanan dengan membaca basmalah, serta melepasnya dari bagian kiri dengan melafalkan doa pembuka pakaian (“Bismillahillazi la ilaha illa huwa”) agar aurat terlindung dari pandangan jin.
    • Adab Makan Tradisional: Siswa mensimulasikan tata cara makan menggunakan tangan kanan (lesehan), melafalkan doa makan dilanjutkan selawat nabi di setiap suapan sebagai obat tubuh, serta mempraktikkan kontrol diri untuk berhenti makan sebelum kekenyangan.
    • Literasi Sosial (Ketika Melihat): Guru menampilkan visual/gambar fenomena anak jalanan atau kaum duafa. Siswa dilatih melatih otak (mind reflex) untuk menahan penilaian (zero-judgment) dan secara spontan memanjatkan doa kebaikan serta menanamkan prasangka baik (husnuzan).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Apakah pakaian yang kita pilih hari ini diniatkan untuk menutup aurat demi Allah, ataukah masih terselip keinginan untuk mencari perhatian manusia?”

PERTEMUAN 4: Adat Sopan Santun Bagaua dan Kurenah (Perangai)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengimplementasikan batasan interaksi sosial yang sehat (khususnya dengan lawan jenis bebas dari khalwat dan asusila), menerapkan kurenah fisik berbasis pemuliaan bagian kanan, serta menjaga kehormatan organ kepala.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa saat berbicara menggunakan mikrofon di depan umum, tangan kiri yang bertugas memegang mic dan bukan tangan kanan?”
    • “Mengapa memegang kepala orang lain dianggap sebagai pelanggaran sopan santun yang sangat berat di Minangkabau?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membacakan hadis riwayat Thabrani mengenai konsekuensi menusuk kepala dengan pasak besi daripada menyentuh lawan jenis yang non-mahram untuk menegaskan batas pergaulan (boundaries).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Permainan Peran & Batas Sosial: Siswa menyusun simulasi kerja kelompok yang bersih dari unsur asusila, tidak saling bersentuhan, dan menundukkan pandangan. Siswa mempraktikkan nilai empati: meminjam barang dengan izin santun, berbagi makanan bagi yang tidak membawa uang saku, membantu mengajar teman yang kesulitan, serta adab bertakziah ke rumah duka.
    • Keterampilan Motorik Kurenah: Siswa mempraktikkan gerakan motorik menggunakan tangan kanan untuk memanggil orang (lambaian), memberikan/menerima barang, dan menyetop kendaraan.
    • Simulasi Penempatan Sisi (Kanan-Kiri): Siswa berlatih memegang mikrofon dengan tangan kiri agar tangan kanan aktif bergerak memberikan gestur penghormatan secara estetis. Siswa juga mensimulasikan adab mengantar tamu pulang dengan memposisikan tamu berjalan di sebelah kanan kita.
    • Literasi Budaya Pemuliaan Kepala: Siswa menganalisis aturan adat tentang kepala (larangan menggosok kepala orang, menarik topi, melangkahi, atau mengotori) serta mempraktikkan cara menjunjung hadiah/uang di atas kepala sebagai wujud syukur.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Petuah adat mengatakan ‘Maminteh sabalun anyuik, malantai sabalun lapuak’. Bagaimana kurenah kecil yang kita pelajari hari ini menjaga kita dari kesalahan sosial yang besar di masa depan?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja Motorik & Perilaku Kontekstual)

Siswa dinilai melalui demonstrasi kelompok acak untuk memecahkan tiga skenario nyata:

  1. Skenario Komunikasi & Gadget: Menghadapi interupsi telepon saat sedang berdiskusi kelompok dengan teman dan guru.
  2. Skenario Tamu & Kurenah: Menyambut tamu yang lebih tua (berdiri sigap, mempersilakan duduk tanpa mendahului, menyuguhkan sesuatu dengan tangan kanan, dan mengantar tamu di sisi kanan).
  3. Skenario Pergaulan Sehat: Berinteraksi di kelas antara siswa laki-laki dan perempuan tanpa bersentuhan fisik, menjaga pandangan, dan saling membantu belajar.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Etika Duduak, Tagak, jo BajalanPostur tegak ±90°, lutut rapat/bersila rapi, berdiri menghormati tamu, berjalan fokus tanpa distraksi HP/makan.Postur tubuh benar namun kadang masih bersandar; berjalan tenang tetapi pandangan sesekali masih kurang fokus.Duduk merenggang/lunglai, enggan berdiri menyambut orang tua, berjalan dihentak/diseret atau sambil main HP.
2Etika Komunikasi (Bakato, Batanyo, Manjawek)Kontak mata terjaga, tubuh menghadap lawan bicara, intonasi teratur (ciek-ciek), interupsi HP dikelola dengan meminta maaf.Menjaga kontak mata namun intonasi suara terlalu cepat; lupa meminta izin saat terpaksa mengecek HP.Mengabaikan lawan bicara, memotong penjelasan guru, bertanya untuk menguji, atau menjawab asal-asalan (ngawur).
3Adab Makan jo BapakaianPakaian longgar menutup aurat, tertib doa mulia sisi kanan, makan dengan tangan kanan sembari berwirid selawat.Pakaian menutup aurat namun agak ketat; makan tertib dengan tangan kanan tetapi porsi terlalu kenyang.Pakaian ketat membungkus tubuh, memakai emas (bagi laki-laki), makan tanpa doa/menggunakan tangan kiri.
4Adab Bagaua jo Kurenah TubuhMenjaga batas fisik non-mahram, memberi/menerima selalu tangan kanan, memegang mic tangan kiri, menghormati kepala orang.Menjaga jarak aman dengan lawan jenis; menggunakan tangan kanan untuk hal utama namun gestur motorik lain masih kaku.Bersentuhan/berkhalwat, memaki kasar, memberi dengan tangan kiri, atau memperlakukan kepala orang lain dengan kasar.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 1: REFLEKSI UTUH BAB I (ADAT SOPAN SANTUN)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan ke-4 tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Selama satu bulan ini, putra-putri kita telah menyelesaikan pembelajaran mendalam mengenai Adat Sopan Santun Urang Minangkabau (Duduak, Tagak, Bajalan, Bakato, Batanyo, Manjawek, Makan, Bapakaian, Melihat, Bagaua, jo Kurenah). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perubahan perkembangan sikap realisasinya di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menjaga sopan santun posisi tubuhnya (duduk tegak, merapatkan lutut/bersila) dan tidak duduk mendahului orang tua/tamu.[ ][ ]
2Ananda berbicara dengan lemah lembut (lunak lambuik), intonasi teratur, serta meminta maaf terlebih dahulu jika harus membuka HP di tengah obrolan keluarga.[ ][ ]
3Ananda memilih pakaian yang sopan (longgar menutup aurat), mandiri mengurus pakaian/rumah, serta tertib berdoa saat menggunakan pakaian dan makan.[ ][ ]
4Ananda mempraktikkan kurenah yang baik (selalu menggunakan tangan kanan saat memberi/menerima) serta menjaga batas pergaulan yang islami.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Keseluruhan Bab I:

“Bagaimana pendapat Ayah/Bunda mengenai perubahan karakter, kesantunan bertutur kata, dan kehalusan perangai (kurenah) ananda dalam kehidupan sehari-hari di rumah setelah mempelajari bab ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB II

PAKAIAN ADAT MINANGKABAU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Mengenal Pemangku Adat Minangkabau & Atasan Pakaian Pangulu (Saluak jo Baju).
    • Pertemuan 2 : Kelengkapan Atribut Pakaian Pangulu, Urang Nan Ampek Jinih, jo Jinih Nan Barampek.
    • Pertemuan 3 : Pakaian Bundo Kanduang (Limbago Kaum) jo Pakaian Harian Laki-Laki (Rang Mudo).
    • Pertemuan 4 : Pakaian Puti Bungsu (Prinsip Menutup Aurat via Balilik) jo Ragam Pakaian Suntiang Perempuan.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Akhlak Luhur & Takwa: Memahami esensi pakaian sebagai penutup aurat (bukan sekadar membungkus tubuh) dan perhiasan takwa (QS. Al-A’raf: 26) serta menjaga kodrat fitrah gender (Hadis Nabi).
    • Kompetensi Kebinekaan Global & Kepemimpinan: Mengenali tatanan kepemimpinan adat Minangkabau serta menginternalisasi nilai kejujuran, keadilan, marwah diri, dan kesiapan sosial dari filosofi pakaian adat.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 21–40.
    • Media Pendukung: Ilustrasi gambar pakaian adat, kain selendang panjang untuk praktik Lilik/Mudawarah, video tutorial Cara Pemakaian Balilik Part 1 (baju kuruang basiba), dan gawai untuk pemindaian kode QR. [1]
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Pemangku Adat & Filosofi Pakaian Pangulu (Atasan)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu memerinci struktur pemangku adat Minangkabau serta menganalisis makna filosofis spiritual, emosional, dan intelektual di balik komponen utama pakaian Pangulu (Saluak dan Baju) untuk diimplementasikan dalam penguatan karakter jujur dan adil.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa baju seorang Pangulu sengaja dirancang tidak memiliki saku? Nilai integritas apa yang ingin ditanamkan?”
    • “Mengapa penutup kepala (Saluak) Pangulu berbentuk datar pada bagian atasnya?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan salam santun, memimpin doa, dan membaca QS. Al-A’raf: 26 mengenai hakikat fungsi pakaian dan keutamaan pakaian takwa.
    • Guru melantunkan petuah adat pembuka bab: “Baju gadang biludu lakan, tangan tasenseng. Tak pambangih, bukan dek kareno pamberang, pengipeh hangek dingin…”
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Literasi Struktur Adat: Siswa mengeksplorasi bagan struktur Pemangku Adat Minangkabau: Urang Nan Ampek Jinih (Pangulu, Manti, Malin, Dubalang), Urang Jinih Nan Barampek (Imam, Katik, Bila, Qadhi), Bundo Kanduang (Mandeh Sako), Rang Mudo, dan Puti Bungsu.
    • Eksplorasi Filosofi (Numerasi Terintegrasi):
      • Saluak: Siswa menganalisis model Pesisir Barat (menggunakan ranai emas). Siswa melakukan perhitungan numerasi terhadap 5 buah kerutan pada Saluak yang melambangkan 5 jenis pemegang kekuasaan (Pangulu, Ulama, Pemerintah, Cerdik Pandai, Dubalang). Siswa menganalisis bentuk atas Saluak yang datar sebagai simbol keputusan mufakat yang adil dan seimbang.
      • Baju Pangulu: Siswa membedah makna baju hitam (keteguhan hasil musyawarah), lengan besar (berdada lapang dan sabar), serta tidak memiliki saku (simbol kejujuran mutlak dan anti-korupsi).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Baju Pangulu dirancang tanpa saku agar tidak ada ruang menyembunyikan kecurangan. Bagaimana kita menerapkan prinsip ‘tanpa saku’ (integritas) ini saat mengikuti ujian di sekolah?”

PERTEMUAN 2: Kelengkapan Atribut Pangulu, Urang Nan Ampek Jinih, jo Jinih Nan Barampek

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis makna filosofis-motorik dari atribut pelengkap pakaian Pangulu (Sandang, Sewah, Sisampiang, Cawek, Tongkat) serta mengidentifikasi ragam pakaian pemangku adat pembantu kepenghuluan dan perangkat syara’.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa keris (Sewah) seorang Pangulu dipasang condong ke arah kiri, tetapi saat memberikan sesuatu ia wajib menggunakan tangan kanan?”
    • “Tongkat seorang Pangulu bukan sekadar alat bantu jalan. Simbol tanggung jawab apa yang melekat padanya?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kerapian kelas, lalu mengulas memori materi Saluak dan Baju Pangulu. Guru menyampaikan petuah pelengkap perilaku: “Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Atribut Pangulu (Numerasi & Batas Motorik): Siswa mengamati Gambar Ilustrasi 30 (komponen nomor 3 sampai 10).
      • Sandang (Selempang): Letak di bahu kanan menyilang ke rusuk kiri melambangkan tanggung jawab pada kemenakan serta kunci penyimpan mufakat (bijak saat kaya, hemat saat miskin).
      • Sewah (Keris): Letak condong ke kiri melambangkan keadilan (membelah sama besar, mengukur sama panjang), dikontrol oleh keterampilan motorik tangan kanan saat memberi (simbol kesucian dan kerelaan).
      • Sisampiang & Cawek: Kain di atas lutut dianalisis secara numerasi sebagai pengukur/batas segala tingkah laku agar “patut sedikit jangan banyak”. Sudut kain kain samping mengarah ke empu kaki sebagai penunjuk motorik agar tidak menempuh larangan adat.
      • Tongkat: Membedah makna ujung tanduk dan kepala perak sebagai simbol kemakmuran dan komando pembantu adat.
    • Permainan Peran (Role Play): Siswa dibagi kelompok untuk mensimulasikan tugas kepemimpinan dan gestur tubuh motorik perangkat pembantu adat (Manti, Malin, Dubalang) serta perangkat syara’ masjid (Imam, Katik, Bila, Qadhi).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Kain sesamping dipasang di atas lutut sebagai pengingat batas ukuran tingkah laku. Batasan-batasan apa yang perlu kita terapkan dalam diri kita agar bijak menggunakan media sosial?”

PERTEMUAN 3: Filosofi Pakaian Bundo Kanduang jo Pakaian Harian Laki-Laki (Rang Mudo)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendeteksi dan mengevaluasi makna filosofis-sosial dari komponen pakaian adat Bundo Kanduang serta pakaian harian lapangan pria muda (Rang Mudo) demi membangun karakter gigih, mandiri, dan berwibawa.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa kedua ujung Tingkuluak Tanduak harus seimbang dan tumpul? Nilai karakter apa yang ingin disampaikan?”
    • “Apa fungsi ganda (sosial dan religius) dari pemakaian kain sarung bugis yang disandangkan di bahu kiri?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dan mengenalkan kedudukan mulia perempuan di Minangkabau sebagai Mandeh Sako (Limbago Kaum). Siswa membaca petuah: “Anak mudo parit paga nagari”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Pakaian Bundo Kanduang: Siswa mengamati Gambar Ilustrasi 4 (komponen 1 sampai 9).
      • Tingkuluak Tanduak: Bentuk tanduk melambangkan kekuatan hati dan kegigihan. Panjang kedua sisi diukur secara numerasi harus seimbang (simbol keadilan), dan ujungnya tumpul (simbol keramahan yang tidak ingin melukai orang lain).
      • Baju Kuruang jo Kodek: Menelaah jahitan pinggir (minsia) sebagai batas demokrasi yang jujur, serta motif belahan depan kain kodek balapak untuk keluwesan gerakan motorik menaiki jenjang rumah gadang.
    • Visual Exploration & Analisis Pakaian Rang Mudo / Lapangan:
      • Baju Putiah Guntiang Cino & Sarawa Jao: Membedah warna putih (kesucian turun ke lapangan melihat masyarakat), potongan longgar (pakaian harian lapangan), dan sulaman baju (simbol kerajinan memanfaatkan waktu).
      • Sarung Bugis: Siswa mempraktikkan keterampilan motorik menyandangkan sarung pada bahu kiri melingkari tangan kiri (simbol status sosial sekaligus fungsi religius agar siap sedia saat waktu shalat tiba).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Pakaian Bundo Kanduang melambangkan kekuatan hati tetapi tidak boleh menjunjung beban berat (dimuliakan). Bagaimana cara kita menghargai dan melindungi marwah perempuan di lingkungan sekolah sehari-hari?”

PERTEMUAN 4: Pakaian Puti Bungsu (Prinsip Menutup Aurat via Balilik) jo Ragam Suntiang

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan konsep ‘menutup’ dan ‘membungkus’ aurat, mendemonstrasikan keterampilan motorik pemakaian kerudung Balilik/Mudawarah, serta mengidentifikasi ornamen pakaian kebesaran Suntiang Anak Daro dan Pasumandan.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Dalam pandangan adat Minangkabau dan Islam, apa perbedaan mendasar antara konsep ‘menutup aurat’ dengan ‘membungkus tubuh’?”
    • “Mengapa pengantin perempuan Minang yang memakai Suntiang diibaratkan seperti bulan yang memantulkan cahaya?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan mengulas hadis nabi mengenai larangan berpakaian yang meniru lawan jenis untuk menjaga kesucian fitrah gender.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Literasi Konsep & Visual Exploration (Balilik):
      • Siswa menelaah pakem pakaian Puti Bungsu (anak gadis) yang longgar, tidak tembus pandang, dan tidak menonjolkan lekuk tubuh (menutup, bukan membungkus).
      • Siswa mengamati karakteristik Baju Kuruang Basiba: panjang sampai lutut, tidak ada jahitan bahu, leher bulat belahan tengah, memakai pola sambungan siba (lambang keseimbangan), serta memiliki kikiek belah ketupat di ketiak (lambang ingat pada tau di nan ampek).
    • Keterampilan Praktis & Media Digital (Joyful):
      • Siswa memindai kode QR atau mengakses tautan video tutorial CARA PEMAKAIAN BALILIK Part 1.
      • Siswa perempuan mempraktikkan keterampilan motorik memakai Lilik (Mudawarah) menggunakan kain panjang yang dililitkan secara rapi melingkari kepala hingga menutup seluruh rambut, leher, dan dada sesuai syara’.
    • Eksplorasi Ragam Suntiang: Siswa mempelajari kemegahan adat lewat Suntiang Anak Daro (permaisuri raja pembawa cahaya). Siswa membandingkan ornamen Suntiang Gadang Padang (10 komponen lengkap termasuk kembang goyang, tokah, dukuah) dengan Pakaian Pasumandan Pengantin Padang (memakai kebaya basiba merah, songket kapalo samek, dan suntiang kapalo randah 13 buah 3 baris). 
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Kikiek pada ketiak baju kurung basiba melambangkan kita harus menggandong prinsip ‘tau di nan ampek’ ke mana pun kita pergi. Bagaimana prinsip tersebut menuntun karakter sopan santun kita di era digital saat ini?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja & Analisis Filosofi)

Siswa dinilai secara individu dan kelompok melalui penyelesaian uji pemahaman ragam pakaian adat (isian dan esai kasus) serta uji petik keterampilan praktis di kelas.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Analisis Atribut Kepemimpinan (Pangulu/Perangkat)Tepat menguraikan fungsi perangkat Ampek Jinih/Barampek serta filosofi sandang, sewah (keadilan), dan sesamping (batas tingkah laku).Mampu menyebutkan komponen pakaian perangkat adat, namun kurang mendalam dalam menjelaskan arti letak pemasangannya bagi perilaku.Hanya melihat pakaian adat laki-laki sebagai seragam fisik tanpa memahami nilai struktural dan filosofinya.
2Filosofi Bundo Kanduang jo Rang MudoMampu membedakan makna kekuatan hati Tingkuluak Tanduak (ujung tumpul seimbang) serta fungsi ganda sosial-religius sarung bugis di bahu kiri.Memahami komponen pakaian Bundo Kanduang dan Rang Mudo, namun analisis nilai keseimbangan dan kemandiriannya belum utuh.Salah menafsirkan komponen atribut atau tidak memahami kaitan pakaian lapangan pria dengan nilai kesucian.
3Keterampilan Motorik Pemakaian BalilikGerakan motorik taktis, mampu melilitkan Lilik/Mudawarah dengan rapi menutup seluruh rambut, leher, dan dada sesuai panduan video.Mampu memakai kerudung lilik namun posisinya kurang rapi atau belum menutup area dada secara sempurna.Tidak mampu mempraktikkan cara melilit kerudung lilik atau kain yang digunakan sangat longgar/terbuka.
4Pemahaman Konsep Puti Bungsu jo SuntiangSangat paham pakem Baju Kuruang Basiba (panjang lutut, ada siba dan kikiek) serta mampu merinci ornamen Suntiang Gadang/Pasumandan.Mengetahui ciri baju kurung basiba tetapi masih keliru membedakan ornamen perlengkapan Suntiang Gadang dan Pasumandan.Tidak mengetahui pakem utama baju kurung basiba dan tidak memahami fungsi pakaian perempuan sebagai penjaga marwah.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 2: REFLEKSI UTUH BAB II (PAKAIAN ADAT MINANGKABAU)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan ke-4 tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan pembelajaran Bab II mengenai Pakaian Adat Minangkabau. Mereka telah belajar memahami nilai integritas, keadilan, serta kehormatan diri (marwah) perempuan yang tercermin dari rancangan pakaian adat. Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda (laki-laki/perempuan) menunjukkan sikap yang adil, jujur, dan penuh tanggung jawab dalam mengelola tugas harian rumah tangga.[ ][ ]
2Ananda pria menerapkan karakter bersih, rajin memanfaatkan waktu luang untuk belajar, dan disiplin mempersiapkan ibadah (shalat tepat waktu).[ ][ ]
3Ananda wanita terbiasa memilih pakaian yang longgar, sopan, menutup aurat secara sempurna (tidak ketat/membungkus), serta santun berperangai.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Keseluruhan Bab II:

“Bagaimana pendapat Ayah/Bunda mengenai perkembangan kemandirian, kedisplinan ibadah, dan cara berpakaian ananda di rumah setelah menyelesaikan bab ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB III

BUDI BAIAK, RASO JO PARESO

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Pemahaman Hakikat Budi, Sifat Saling Menghargai, dan Etika Tenggang Raso.
    • Pertemuan 2 : Internalisasi Sifat Rasa Malu, Rendah Hati (Tawadhu), Berani, dan Suka Menolong.
    • Pertemuan 3 : Dampak Sosial “Terjual Budi” dan Operasional Formula “Raso Dibao Naiak, Pareso Dibao Turun”.
    • Pertemuan 4 : Penerapan Baso Endah melalui Praktik Langgam Kato Nan Ampek (Mandaki, Manurun, Mandata).
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Berakhlak Mulia & Bertakwa: Mengintegrasikan budi pekerti luhur dalam keseharian demi keberuntungan akhirat sesuai QS. Al-Maidah: 100, QS. Al-Qalam: 4, serta landasan hadis nabi tentang kebajikan lisan dan pengendalian emosi hati.
    • Kompetensi Mandiri & Bergotong Royong: Membina kepekaan sosial interpersonal melalui penerapan rasa empati, sikap ksatria membela kebenaran, serta komitmen saling menolong sesama makhluk sosial.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 41–60.
    • Media Pendukung: Lembar studi kasus dilema moral remaja, papan petuah adat Minangkabau, dan tabel jurnal refleksi harian perilaku siswa.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Hakikat Budi, Saling Menghargai, jo Tenggang Raso

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis hakikat budi (akhlak) sebagai fondasi utama kehidupan beradat, serta mempraktikkan sikap saling menghargai perbedaan dan etika tenggang raso (lamak di awak, katuju dek urang) dalam interaksi sosial.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa dalam adat Minangkabau orang yang tidak berbudi dianggap sama dengan orang yang tidak beradat?”
    • “Bagaimana cara kita menerapkan prinsip ‘gadang jan malendo, panjang jan malindih‘ saat bekerja kelompok dengan teman?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan salam, berdoa, dan membaca QS. Al-Maidah: 100 serta QS. Al-Qalam: 4 mengenai budi pekerti luhur.
    • Siswa meresapi lantunan petuah: “Nak aluih baso jo basi, nak luruih rantangkan tali, nak tinggi naikkan budi, nak kayo kuek mancari. Hancua badan dikanduang tanah, budi baiak dikanang juo”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Literasi Konsep: Siswa mengamati bagan hubungan antara budi, baso-basi, dan malu. Siswa menelaah teks untuk memahami bahwa nilai budi tidak dapat diukur dengan materi dan akan dikenang sepanjang masa (“Baganggang karano budi, bacarai karano baso”).
    • Analisis Petuah (Numerasi Sosial): Siswa membedah petuah tentang toleransi beban hidup: “Kok sampik lapang-malapangi, kok kurang tambah manambah, senteng bilai mambilai”. Siswa mensimulasikan perhitungan pembagian tugas kelompok secara adil proporsional agar tidak ada teman yang terbebani sepihak (sabarek saringan).
    • Permainan Peran (Role Play – Tenggang Raso): Siswa berpasangan mempraktikkan simulasi komunikasi verbal. Mereka melatih keterampilan motorik berbicara dengan menyaring kata-kata sensitif demi menjaga perasaan lawan jenis atau teman yang berbeda latar belakang (“lamak di awak, katuju dek urang”). Siswa mempraktikkan prinsip: menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, dan merangkul teman sebaya.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Pernahkah ucapan kita menyinggung teman tanpa kita sadari? Bagaimana cara kita mengevaluasi diri agar memiliki ketajaman tenggang raso mulai hari ini?”

PERTEMUAN 2: Karakter Rasa Malu, Rendah Hati, Berani, jo Suka Menolong

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengevaluasi dan mendemonstrasikan 4 pilar implementasi budi baik siswa (malu melanggar aturan, rendah hati/tawadhu, berani membela kebenaran, dan reflek motorik suka menolong sesama).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mendasar antara sifat rendah hati (tawadhu) dengan sifat rendah diri (minder)?”
    • “Bagaimana adat Minangkabau memandang perbuatan buruk seperti ‘mangguntiang dalam lipatan‘ atau ‘manuhuak kawan sairiang‘?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam suasana teduh, lalu mengulas hadis nabi tentang esensi dosa sebagai sesuatu yang merisaukan hati dan tidak senang jika diketahui orang lain.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Studi Kasus 4 Sifat Malu di Sekolah (Literasi Dasar): Siswa dibagi dalam tim untuk membedah dan berkomitmen menghindari 4 hal memalukan bagi siswa:
      • Malu berpakaian tidak sopan (tidak sesuai aturan tata tertib sekolah).
      • Malu berkata kasar (menghindari caci maki, umpatan, ucapan jorok, dan bahasa kotor).
      • Malu datang terlambat (membangun kedisiplinan waktu dan rasa bersalah jika terlambat).
      • Malu tidak mengerjakan PR / mengabaikan tugas akademik.
    • Role Play Pemuliaan Guru & Rendah Hati: Siswa mensimulasikan keterampilan motorik sosial saat berpapasan dengan guru di koridor atau di luar sekolah (reflek menyapa, tersenyum, mengucapkan salam/selamat pagi, dan mendoakan kebaikan guru sesuai HR. Bukhari).
    • Eksplorasi Perilaku Motorik (Rendah Hati vs Sombong): Siswa menganalisis petuah larangan sombong seperti melangkah angkuh (“sarupo lonjak labu dibanam”). Siswa melatih posisi tubuh rendah hati: berjalan di rusuak labuah (tepi jalan/tidak pongah), ramah menyapa, dan saksama mendengarkan teman.
    • Simulasi Ketegasan Berani & Suka Menolong:
      • Berani karena Benar: Siswa mensimulasikan penyelesaian konflik kelompok secara objektif tanpa memihak secara buta (“tibo diparuik dikampihkan, tibo dimato dipiciangkan”). Mereka membaca komitmen pantun adat: “Kato nan bana jan dituka… kok dianjak jadi sansaro”.
      • Reflek Menolong: Siswa mempraktikkan gerakan motorik saling bantu: menyangga teman yang kesusahan belajar, menjenguk yang sakit (sakik basilau, mati dijanguak), dan menjauhi sifat pengkhianat (mangguntiang dalam lipatan, manuhuak kawan sairiang).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam berdasarkan mamangan: “Kok hiduik indak babudi, duduak tagak kamari cangguang”. Siswa menuliskan komitmen penguatan karakter malu di buku jurnal harian.

PERTEMUAN 3: Sanksi Sosial “Terjual Budi” jo Operasional “Raso jo Pareso”

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengevaluasi dampak sanksi sosial kehilangan kepercayaan akibat tindakan “terjual budi”, menerapkan prinsip mawas diri, serta mengoperasikan formula berpikir dialektis “Raso dibao naiak, pareso dibao turun” dalam mengontrol emosi dan ucapan sehari-hari.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa adat Minangkabau menyatakan bahwa sekali kita melakukan kecurangan, maka seumur hidup orang tidak akan percaya lagi (sekali lancuang ka ujian)?”
    • “Apa makna dari petuah ‘Raso dibao naiak, pareso dibao turun‘ dalam menyaring berita atau ucapan sebelum disampaikan kepada orang lain?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa hening sejenak untuk memfokuskan pikiran. Guru melantunkan bait petitih: “Marpati batalua hijau, jatuah ka lapiak lalu pacah. Luko hati bukan dek pisau, tapi kalatiak ujuang lidah”.
    • Siswa merenungkan betapa tajamnya dampak ulasan lidah terhadap perasaan manusia yang sangat peka dan mudah terluka.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Konsekuensi: Siswa membaca teks mengenai konsep “terjual budi” (terjual budi). Siswa membedah pantun adat “Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo…” untuk menganalisis secara mendalam dampak kehancuran reputasi moral pribadi jika melakukan kebohongan/kecurangan.
    • Simulasi Praktik Mawas Diri: Siswa mempraktikkan simulasi tindakan kehati-hatian berdasarkan prinsip “Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah”. Siswa dilatih peka mengenali tanda-tanda bahaya sosial di sekitarnya (Tau di condong nan ka manimpo, tau di rantiang nan ka mancucuak).
    • Operasional Deep Learning (Numerasi Komparatif Emosi-Otak):
      • Siswa membedah konsep Raso (hati nurani/fungsi emosional seperti marah, sedih, senang) dan Pareso (otak/fungsi pemikiran akal sehat, khayalan, keinginan).
      • Siswa mempraktikkan metode berpikir “Raso dibao naiak” (membawa luapan perasaan dari hati ke atas menuju pertimbangan otak) dan “Pareso dibao turun” (membawa hasil kajian akal sehat ke bawah untuk diselaraskan kembali dengan hati nurani). Latihan ini dilakukan dengan menguji sebuah kalimat berita bohong (hoax) sebelum disebarkan.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Kepercayaan orang lain adalah aset terbesar hidup kita. Pernahkah kita melakukan tindakan ‘lancuang’ (curang) yang merusak kepercayaan orang tua atau teman? Bagaimana cara kita memulihkannya kembali?”

PERTEMUAN 4: Baso Endah jo Praktik Langgam Kato Nan Ampek

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan orientasi komunikasi berdasarkan status dan usia melalui pemahaman Langgam Kato Nan Ampek, serta mendemonstrasikan keterampilan motorik-verbal Kato Mandaki, Kato Manurun, dan Kato Mandata dalam interaksi sosial nyata.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa cara kita berbicara kepada guru atau orang tua (Kato Mandaki) harus berbeda dengan cara berbicara kepada adik (Kato Manurun)?”
    • “Apa sanksi moral dan sebutan adat bagi siswa yang lewat di depan orang tua tanpa menyapa atau menundukkan kepala?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan menyampaikan materi pokok tentang Baso Endah (tutur bahasa yang elok) sebagai manifestasi tertinggi dari kepedulian terhadap objek lawan bicara.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Jalur Komunikasi: Siswa mempelajari peta jalur komunikasi empat arah Minangkabau yang dianalogikan seperti model jalan (mendaki, menurun, melereng, mendatar).
    • Simulasi Klinik & Bermain Peran (Role Play Langgam Kato): Siswa dibagi menjadi tiga kelompok kerja simulasi praktis:
      • Kelompok 1 (Kato Mandaki): Menguji dan memperagakan etika murid kepada guru atau anak kepada orang tua. Mempraktikkan cara berbicara tidak bersicepat, menolak menyombongkan kepandaian, serta gerakan motorik menundukkan kepala dan menyapa ramah saat berjalan melewati kerumunan orang tua agar tidak disebut gaduak (angkuh). Mempraktikkan prinsip “datang tampak muko, pai tampak pungguang”.
      • Kelompok 2 (Kato Manurun): Memperagakan simulasi guru kepada murid atau kakak kepada adik. Melatih kontrol suara bijaksana tanpa menghardik (“ingek nan diateh, nan dibawah kok maimpok”) dengan memakai prinsip kepemimpinan adat: tagangnyo bajelo-jelo, kanduanyo badantiang-dantiang. Mempraktikkan metode menasihati kesalahan teman/adik secara empat mata (bertatap muka langsung dari lubuk hati) bukan mencaci di depan umum.
      • Kelompok 3 (Kato Mandata): Memperagakan interaksi sesama rekan sebaya atau teman sekelas. Mempraktikkan kata-kata yang merendah, menjauhi diksi kasar, serta mengedepankan prinsip kebersamaan “muluik manih kucindan murah”.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Bahasa seseorang menunjukkan kualitas kepribadiannya. Dari ketiga jenis langgam kato yang kita simulasikan hari ini, mana yang paling sering luput dari penerapan sopan santun kita di sekolah?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja Komunikasi Kontekstual)

Siswa dinilai secara langsung melalui simulasi kelompok berbasis lembar skenario acak untuk mempraktikkan ketepatan penggunaan Kato Mandaki saat berhadapan dengan otoritas sekolah (Guru/Kepala Sekolah) dan Kato Mandata saat berdiskusi dengan teman sebaya.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Operasional Pemikiran Raso jo ParesoSukses menyeimbangkan hati nurani dan akal sehat (raso dibao naiak, pareso dibao turun) sebelum bertindak; terhindar dari ketergesaan lisan.Mampu memahami keharusan mawas diri, namun terkadang masih terburu-buru merespons ucapan yang memicu emosi.Berbicara tanpa berpikir, tergesa-gesa, dan sering melontarkan kata-kata yang melukai perasaan (kalatiak ujuang lidah).
2Penerapan Kato Mandaki (Hormat)Berbicara tenang, santun, tidak menyela, mempraktikkan datang tampak muko pai tampak pungguang, menunduk dan menyapa saat lewat.Menghormati guru dan orang tua, namun gerakan motorik (menyapa/menunduk) saat melewati tempat ramai masih canggung.Bersikap angkuh (gaduak), berbicara memotong/bersicepat di depan guru, serta tidak acuh saat berpapasan.
3Penerapan Kato Manurun jo MandataBijaksana saat menasihati yang lebih kecil (tidak mencaci di depan umum) serta mampu memakai kata merendah dan ramah sesama sebaya.Mampu menjaga keharmonisan dengan teman, namun terkadang nada suaranya masih terkesan menghardik saat menegur adik kelas.Suka mencaci-maki teman sebaya, menggunakan kata kasar, atau menghina bawahan/adik kelas di depan keramaian.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 2: REFLEKSI UTUH BAB III (BASO ENDAH JO LANGGAM KATO)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab III tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh materi Bab III (Budi Baiak, Raso jo Pareso). Mereka telah melatih diri untuk mawas diri agar tidak kehilangan kepercayaan (terjual budi), mengasah ketajaman hati nurani, serta mempraktikkan sopan santun berkomunikasi melalui Langgam Kato Nan Ampek. Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda mawas diri dalam bertindak, jujur, serta berusaha menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua di rumah.[ ][ ]
2Ananda berbicara menggunakan Kato Mandaki yang khidmat (tidak membantah dengan kasar, santun, dan pamit dengan muko-pungguang yang jelas).[ ][ ]
3Ananda yang dituakan (kakak) mampu mengayomi adik dengan Kato Manurun yang teduh, menasihati dengan lembut tanpa menghardik/mencaci.[ ][ ]
4Ananda berkomunikasi secara setara (Kato Mandata) dengan saudaranya secara harmonis, saling menghargai, dan menjauhi kata-kata kasar.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab III:

“Bagaimana penilaian Ayah/Bunda terhadap perubahan kontrol emosi, cara berkomunikasi, dan tingkat kesantunan lisan ananda di rumah minggu ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB IV

SUMBER HUKUM SURUHAN DAN LARANGAN ADAT MINANGKABAU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Sumber Hukum Adat Minangkabau dan Suruhan Sangat Utama (Rukun) jo Suruhan Utama.
    • Pertemuan 2 : Ketetapan Sosial-Ekonomi melalui Suruhan Menengah dan Suruhan Kecil.
    • Pertemuan 3 : Larangan Sangat Utama (Murtad, Pernikahan Beda Agama, dan LGBT).
    • Pertemuan 4 : Undang Adat Nan Salapan (16 Larangan Utama) Berdasarkan Bai’ah Marapalam.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Regulasi Diri & Ketaatan Syariat: Mengikuti peraturan hukum (syariat) demi menjaga diri dari hawa nafsu (QS. Al-Jatsiyah: 18) serta mewujudkan hak Allah dalam ketertiban pergaulan (HR. Bukhari).
    • Kompetensi Kebinekaan Global & Hukum Adat: Memahami tata hierarki hukum suruhan dan larangan adat Minangkabau untuk memelihara keamanan, ketertiban, dan keharmonisan bermasyarakat.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 61–80.
    • Media Pendukung: Bagan tingkatan suruhan dan larangan adat, lembar analisis studi kasus kriminalitas remaja, dan papan petuah adat Minangkabau.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Sumber Hukum Adat, Suruhan Sangat Utama, jo Suruhan Utama

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu memerinci hierarki sumber hukum adat Minangkabau (ABS-SBK) serta menganalisis implementasi suruhan sangat utama (Islam sebagai rukun mutlak) dan tujuh pilar suruhan utama dalam pembentukan karakter jujur dan adil.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa seseorang yang ingin diakui sebagai orang Minangkabau secara mutlak harus beragama Islam?”
    • “Mengapa menuliskan semua peraturan, hutang piutang, dan kegiatan ekonomi milik bersama masuk ke dalam kategori Suruhan Utama (Wajib)?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan salam, berdoa, dan membaca QS. Al-Jatsiyah: 18 mengenai kewajiban mengikuti syariat dan menahan hawa nafsu.
    • Siswa meresapi petuah dasar: “Adaik ba alua jo bapatuik, makanan banang siku-siku. Kato bana indak baturuik, engeran batin nan baliku”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Sumber Hukum: Siswa mengamati bagan struktur tiang hukum Minangkabau: Bertuhankan Allah SWT, kerasulan Nabi Muhammad, berkitabullah Al-Qur’an, berqiyas pada Khulafaur Rasyidin, serta ber-ijma’ para ulama dan intelektual takwa.
    • Analisis Suruhan Sangat Utama (Rukun): Siswa menelaah aturan hukum adat: jika non-muslim ingin masuk adat Minang wajib bersyahadat dengan dua saksi laki-laki muslim dan melakukan khitan bagi laki-laki.
    • Numerasi & Akuntansi Sosial (Suruhan Utama): Siswa membedah 7 suruhan utama (Rukun Iman, Rukun Islam, Berbuat Adil, Berdoa & Berzikir, Menjamin keluarga dekat, serta Kewajiban Pencatatan Keuangan). Siswa melakukan simulasi keterampilan motorik-kognitif: mempraktikkan cara mencatat akuntansi keuangan sederhana/hutang-piutang milik kelompok secara detail agar transparan dan mencegah konflik ekonomi.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Keadilan berarti meletakkan sesuatu sesuai porsinya. Sudahkah kita berbuat adil dalam membagi waktu antara belajar, membantu orang tua, dan beribadah di rumah?”

PERTEMUAN 2: Manajemen Kehidupan via Suruhan Menengah jo Suruhan Kecil

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengevaluasi penyederhanaan adat dalam aspek pendidikan (surau), tradisi kematian (fardhu kifayah), perkawinan (baralek), dan ketetapan Adat Salingka Nagari (Suruhan Kecil).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa adat Minangkabau melarang tradisi menangisi mayat secara berlebihan (maratok) dan membebankan biaya penguburan pada keluarga duka?”
    • “Mengapa upacara perkawinan baralek gadang dipangkas dari 7 hari menjadi 1 hari saja menurut Suruhan Menengah?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas, lalu menyampaikan materi suruhan menengah yang diputuskan oleh lembaga tinggi nagari/Rajo Nan Tigo Selo untuk efisiensi sosial masyarakat.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Manajemen Tradisi:
      • Pos Pendidikan (Numerasi Usia): Siswa menganalisis fungsi surau kaum untuk anak usia 5–8 tahun (belajar Al-Qur’an dan tauhid) dan surau kampung (tafsir, hadis, dan hukum syara’).
      • Pos Fardhu Kifayah: Siswa membedah aturan pelarangan biaya pribadi untuk pemakaman. Umat bertanggung jawab penuh. Selama 3 hari di rumah duka dilarang ada pesta makan-minum, diganti mengaji bersama. Siswa perempuan mensimulasikan membawa beras dan siswa laki-laki membawa sedekah/doa.
      • Pos Baralek Efisien: Siswa menganalisis penyederhanaan pesta dari 7 hari (sembelih 7 kerbau) menjadi 1 hari (sembelih 1 kerbau) tanpa hiburan merusak (Numerasi efisiensi biaya).
    • Permainan Peran (Role Play Suruhan Kecil): Siswa mensimulasikan musyawarah tingkat Nagari untuk merumuskan Adat Salingka Nagari yang merujuk pada undang-undang adat yang lebih tinggi.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Penyederhanaan tradisi bertujuan agar masyarakat tidak terbebani secara ekonomi. Bagaimana kita menerapkan gaya hidup hemat dan bersahaja di lingkungan sekolah?”

PERTEMUAN 3: Larangan Sangat Utama (Benteng Akidah jo Fitrah Kemanusiaan)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan jenis pelanggaran akidah-moralitas (murtad secara lisan/perbuatan, pernikahan beda agama, dan LGBT) serta menganalisis dampak kehancuran hak adat jika larangan rukun ini dilanggar.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa tindakan membuang mushaf Al-Qur’an ke tempat sampah dikategorikan sebagai murtad perbuatan (Larangan Sangat Utama)?”
    • “Bagaimana Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 221 membentengi marwah keluarga Mukmin dari pernikahan beda agama?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan suasana serius dan khidmat. Guru menegaskan bahwa pelanggaran pada sesi ini berakibat fatal: hilangnya seluruh hak adat di Minangkabau.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Konsep: Siswa menelaah 5 poin Larangan Sangat Utama (Rukun):
      • Murtad (Akidah): Membedah murtad keyakinan, lisan, maupun perbuatan (seperti bersujud pada berhala atau sengaja membuang mushaf ke tempat kotor).
      • Pernikahan Beda Agama: Menganalisis QS. Al-Baqarah: 221. Siswa berdiskusi kritis tentang dampak buruk pernikahan beda agama terhadap pola didik psikologis anak di dalam rumah tangga.
      • Penyimpangan LGBT: Menganalisis sejarah kelam kaum Nabi Luth AS sebagai contoh perilaku merusak yang menyalahi fitrah penciptaan manusia.
    • Analisis Batas Perilaku Motorik: Siswa membuat komitmen tertulis bersama untuk menjauhi segala bentuk paparan pemikiran menyimpang dan memperkuat fondasi keagamaan di lingkungan pertemanan.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Ketika seseorang keluar dari Islam, ia otomatis kehilangan hak adatnya di Minangkabau. Mengapa akidah Islam menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar dalam tatanan adat kita?”

PERTEMUAN 4: Undang Adat Nan Salapan (16 Larangan Utama)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu merinci, mengidentifikasi, dan menjauhi 16 buah kejahatan dalam Undang Adat Nan Salapan (Kembar-Kembar) hasil Bai’ah Marapalam, serta menganalisis bahaya laten Sumbang-Salah dan Dago-Dagi di era digital.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan antara kejahatan Maliang dengan Curi, serta kejahatan Samun dengan Saka menurut undang adat?”
    • “Muda-mudi yang naik motor berduaan sambil berangkulan termasuk dalam pelanggaran apa? Bagaimana tanggapan adat terhadap hal ini?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan membacakan puji-pujian adat: “Dituruik parentah Allah, dipakai kato kabulatan…” sebagai pengantar masuknya materi konstitusi pidana adat Minangkabau (Undang Nan Salapan).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Konstitusi Pidana Adat (Numerasi Salapan Kembar/16 Kejahatan):
      • Siswa mengeksplorasi papan infografis 16 kejahatan wajib tinggal:
        1. Dago-Dagi (Desas-desus pengacauan & penyebaran fitnah).
        2. Sumbang-Salah (Perilaku tak patut & perbuatan zina/mendekati zina).
        3. Samun-Saka (Merampok dengan pembunuhan & merampok dengan kekerasan) beserta sampirannya (Rabuik-Rampeh / Begal & penodongan).
        4. Maliang-Curi (Mengambil milik orang dengan merusak tempat penyimpanan & mengambil saat lengah).
        5. Tikam-Bunuh (Melukai fisik & menghilangkan nyawa orang).
        6. Kicuah-Kecong (Penipuan & pemalsuan merugikan) beserta sampirannya (Umbuak-Umbai / Penyuapan & membujuk berbuat jahat).
        7. Upeh-Racun (Menyakiti via ramuan bisa makanan & mematikan via racun).
        8. Sia-Baka (Kelalaian membuat api kebakaran & sengaja membakar hangus barang orang).
    • Studi Kasus Digital & Perilaku (Role Play / Diskusi):
      • Siswa membedah kasus Dago-Dagi modern: menyebarkan fitnah/berita bohong (hoax) di grup WhatsApp.
      • Siswa mengevaluasi runtuhnya rasa malu akibat pelanggaran Sumbang-Salah gaya pacaran muda-mudi zaman sekarang (naik motor berangkulan). Siswa merumuskan sanksi moral kelompok untuk menghentikan perilaku tersebut.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Undang-undang ini dibuat untuk menjaga ketertiban. Manakah dari 16 larangan utama ini yang paling rawan menyerang generasi muda akibat pengaruh lingkungan, dan bagaimana cara kita membentengi diri?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Analisis Hukum & Kasus Kriminalitas)

Siswa mengerjakan soal esai analisis komparatif mengenai perbedaan delik hukum pidana adat (misal: membedakan Kicuah dan Kecong) serta memberikan argumen logis penolakan terhadap LGBT dan murtad sesuai syariat dan adat.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Pemahaman Sumber Hukum & SuruhanSangat paham tata hierarki hukum ABS-SBK, tertib mempraktikkan pencatatan ekonomi kelompok, dan konsisten beribadah.Memahami sumber hukum, namun akurasi dalam praktik simulasi pencatatan hutang/peraturan kelompok masih keliru.Mengabaikan perintah ibadah wajib dan tidak memahami struktur sumber hukum adat Minangkabau.
2Analisis Penolakan Larangan RukunMemiliki argumen teologis dan logis yang kuat menolak murtad, pernikahan beda agama, dan penyimpangan LGBT.Mengetahui bahwa perbuatan murtad/LGBT dilarang, namun belum mampu merinci dampak kerusakan sosialnya bagi keturunan.Mendukung atau bersikap acuh tak acuh terhadap pelanggaran akidah dan penyimpangan fitrah manusia.
3Penguasaan Undang Adat Nan SalapanMampu memerinci 16 larangan kembar dengan tepat serta peka mendeteksi bahaya fitnah (dago-dagi) dan asusila (sumbang-salah).Mampu menghafal sebagian besar dari 16 larangan, namun sulit membedakan perbedaan operasional antara samun dan saka.Tidak mengetahui komponen Undang Nan Salapan dan menganggap biasa perilaku pacaran menyimpang/mencontek (kicuah).

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 1: REFLEKSI UTUH BAB IV (SURUHAN JO LARANGAN ADAT)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab IV tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan materi Bab IV mengenai Sumber Hukum Suruhan dan Larangan Adat Minangkabau. Mereka belajar menaati perintah agama, hidup hemat, menjaga akidah, serta menjauhi 16 kejahatan besar (Undang Nan Salapan). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda disiplin menjalankan Suruhan Utama (shalat 5 waktu, jujur, bertindak adil, dan rajin berdoa/berzikir).[ ][ ]
2Ananda mendukung efisiensi keluarga, menjauhi gaya hidup mewah/boros, dan menunjukkan empati saat ada tetangga kemalangan.[ ][ ]
3Ananda teguh menjaga akidah Islam, menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis, dan bersih dari perilaku menyimpang.[ ][ ]
4Ananda menjauhi perilaku buruk seperti berbohong/curang (kicuah), mencuri, bertengkar, atau menyebarkan fitnah/jelek-jelekan teman (dago-dagi).[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab IV:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap peningkatan kedisiplinan ibadah, kepatuhan hukum, dan benteng moral pergaulan ananda di rumah minggu ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………


BAB V

ALAM TAKAMBANG JADI GURU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Pengertian Falsafah Alam Takambang Jadi Guru dan Perintah Mempelajari Alam.
    • Pertemuan 2 : Tiga Sifat Dialektika Alam (Bakarano Bakajadian) dan Tata Aturan Pemanfaatan Lahan Minangkabau.
    • Pertemuan 3 : Efisiensi Pemanfaatan Material Alam jo Analogi Sosial Kemanusiaan serta Esensi Budaya Merantau.
    • Pertemuan 4 : Klasifikasi Tiga Jenis Alam (Alam Batang, Alam Binatang, jo Alam Langik) sebagai Pedoman Karakter.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Akhlak Tinggi & Berakal: Mampu membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta (QS. Al-Baqarah: 164) serta membiasakan diri memohon taufiq keselamatan dunia-akhirat (HR. Ahmad).
    • Kompetensi Bernalar Kritis & Bergotong Royong: Memiliki ketajaman berpikir investigatif untuk meneliti sebab-akibat (bakarano bakajadian) dan memiliki kecakapan ekologis dalam mengelola lingkungan hidup secara bijaksana serta cakap beradaptasi sosial di perantauan.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 81–100.
    • Media Pendukung: Foto/Gambar tata ruang nagari Minangkabau tradisional, papan petuah filosofi alam, infografis klasifikasi fauna dan flora, serta lembar kerja pemetaan lahan fungsional.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Hakikat Falsafah Alam jo Perintah Membaca Ayat Kauniyah

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendefinisikan falsafah Alam Takambang Jadi Guru, mengaitkan perintah “Iqra” dengan kewajiban mempelajari ciptaan Allah (Ayat Kauniyah), serta menginternalisasi komitmen belajar sepanjang hayat (long-life learning).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa ketika wahyu pertama ‘Iqra’ turun di Gua Hira, Nabi Muhammad diminta ‘membaca’ padahal di sana tidak ada buku atau teks bacaan?”
    • “Apa arti dari petuah: ‘Nan satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru’?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tenang, memimpin doa, dan membaca QS. Al-Baqarah: 164 mengenai tanda-tanda kebesaran Allah dalam sirkulasi angin, awan, langit, dan bumi.
    • Siswa bersama-sama meresapi bait petuah adat: “Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang… Nan satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang…”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Konsep: Siswa mengamati lanskap alam sekitar (bisa area luar kelas atau gambar visual pegunungan, laut, dan awan). Siswa mendefinisikan esensi Alam Takambang Jadi Guru sebagai sumber belajar empiris melalui pengamatan mendalam, penyelidikan saksama, dan refleksi berulang hingga melahirkan hukum adat/petuah.
    • Literasi Spiritual (Esensi Iqra): Siswa mendiskusikan korelasi antara wahyu pertama di Gua Hira dengan perintah meneliti alam. Siswa mengonstruksi pemahaman bahwa belajar sejati bukan sekadar tahu, melainkan mengaplikasikan ilmu demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
    • Simulasi Motorik Belajar Sepanjang Hayat: Siswa menyusun komitmen tertulis target pencarian ilmu harian mereka (mengaplikasikan hadis nabi menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat, serta pepatah menuntut ilmu hingga ke negeri Cina).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Jika alam adalah guru terbesar kita, pesan moral atau pelajaran apa yang bisa kita ambil hari ini dari sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah atau sifat pohon yang tetap berbuah meski dilempari batu?”

PERTEMUAN 2: Tiga Sifat Dialektika Alam jo Tata Ruang Fungsional Lahan

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu merinci 3 sifat hubungan alam (Bakarano Bakajadian), mendemonstrasikan sikap mawas diri terhadap bahaya fisik alam, serta menyusun peta tata aturan pemanfaatan lahan Minangkabau berdasarkan fungsinya.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Bagaimana cara matahari dan pepohonan rimbun bekerja sama membuktikan sifat alam yang saling berbenturan namun tidak saling melenyapkan?”
    • “Bagaimana cara masyarakat adat Minangkabau membagi peruntukan tanah agar tidak ada sejengkal lahan pun yang terbuang sia-sia?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan membacakan hadis riwayat Imam Ahmad mengenai doa menyambut hilal (bulan) sebagai tanda keamanan, keimanan, dan taufiq yang diridhai Allah SWT.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration 3 Sifat Dialektika Alam: Siswa menganalisis konsep dinamis Bakarano Bakajadian (bersebab-berakibat) yang memiliki 3 sifat: (1) Berbeda fungsi tapi berhubungan tidak mengikat, (2) Saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan (Studi kasus: Matahari vs pohon rimbun tempat berteduh), dan (3) Saling mengelompok tapi tidak saling melarutkan.
    • Mawas Diri Motorik (Hati-Hati dengan Alam): Siswa mendeklamasikan petuah bahaya fisik alam: “Api mambaka, aia mambasahi, tajam malukoi, runciang mancucuak…”. Siswa mensimulasikan langkah-langkah keselamatan motorik (safety reflex) menghadapi perubahan cuaca atau bahaya lingkungan sekitar.
    • Projek Numerasi Tata Ruang (Land Use Mapping):
      • Siswa dibagi dalam kelompok untuk membedah petuah keruangan Minangkabau: “Tanah nan lereang tanami padi, nan tunggang tanami buluah, nan data jadian kabun…”
      • Siswa melakukan keterampilan numerasi spasial: menggambar peta atau mencocokkan 10 jenis kontur tanah dengan fungsinya secara tepat pada lembar kerja:
        Lereang → Padi, Tunggang → Buluah, Data → Kabun, Basah → Sawah, Padek → Perumahan/Gumbalo, Munggu → Pakuburan, Lubuak → Tabek, Balumpua → Kubangan kerbau, Barawa → Itiak berenang.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir sesi: “Pembagian lahan di Minangkabau membuktikan tidak ada tanah yang sia-sia jika dikelola dengan ilmu. Bagaimana dengan potensi dalam diri kita sendiri? Sudahkah kita menempatkan bakat dan waktu kita pada tempat yang tepat?”

PERTEMUAN 3: Efisiensi Alam, Analogi Sosial, jo Karakter Merantau

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis kaidah pemanfaatan material alam secara efektif-efisien, merasionalkan analogi fungsi sosial manusia, serta mengevaluasi urgensi esensi merantau sebagai wadah berguru pada tanda-tanda alam (learning by traveling).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Berdasarkan aturan adat tentang kayu, mengapa bagian ranting yang kecil dan abu sisa pembakaran pun tidak boleh dibuang sia-sia (nan bungkuak ka tangkai bajak)?”
    • “Apa makna dari petuah merantau: ‘Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso’?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa mengamati sekeliling ruang kelas untuk mendeteksi benda-benda yang dibuat dari material alam.
    • Siswa meresapi petuah pengingat kemandirian anak muda: “Pergi merantaulah anak muda dahulu, karena di rumah belum begitu dibutuhkan”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Numerasi Logistik Kayu: Siswa membedah petuah tata guna material kayu: “Kayu nan kuaik ka tiang rumah, nan luruih ka suduik paran, nan lantiak bubungan atok…”. Siswa melakukan analisis numerasi spasial: mencocokkan 8 jenis bentuk kayu dengan fungsi strukturalnya (bengkok → tangkai bajak, kecil → gagang sapu, lapuk → kayu bakar, abu → pupuk) sehingga tercipta ekosistem zero-waste.
    • Analisis Analogi Perilaku Manusia (Inklusi Sosial): Siswa menelaah petuah tata kelola SDM masyarakat Minang: “Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah…”. Siswa mendiskusikan nilai keadilan sosial bahwa setiap manusia memiliki fungsi unik dan tidak ada yang tersia-siakan (inklusi bagi disabilitas/keterbatasan).
    • Permainan Peran Budaya Merantau (Role Play): Siswa mensimulasikan drama pendek pelepasan anak muda yang hendak pergi merantau. Mereka melatih kecakapan kognitif membaca tanda-tanda alam dan komitmen mematuhi perbedaan adat di nagari orang (“Nagari orang, adaik balaian, di situ tampek baguru…”).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Jika orang yang bingung pun memiliki fungsi sebagai orang yang disuruh-suruh (nan binguang disuruah-suruah), bagaimana dengan kita yang diberikan kesempurnaan akal dan fisik? Sudahkah kita menggunakannya untuk menolong sesama?”

PERTEMUAN 4: Klasifikasi Tiga Jenis Alam (Batang, Binatang, jo Langik)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendeteksi kearifan lokal berbasis sains melalui pemetaan 3 rumpun alam (Alam Batang, Binatang, jo Langik) serta mengimplementasikan nilai integritas, mawas diri, kehati-hatian, adaptasi lingkungan, dan loyalitas persahabatan sejati.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa tumbuhan sirih (Piper betle) dijadikan simbol kerendahan hati dan kasih sayang dalam adat Minangkabau?”
    • “Bagaimana cara para perantau Minang sukses di luar negeri dengan berpegang pada prinsip ‘Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang‘?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam keheningan, lalu meminta perwakilan siswa membacakan QS. Al-Baqarah: 164 mengenai sirkulasi angin, laut, dan awan sebagai ayat kauniyah yang wajib dibaca oleh orang-orang yang mengerti.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Laboratorium Sains Tradisional: Siswa dibagi ke dalam 3 pos rumpun alam untuk membedah nama latin (sains) dan makna filosofis petuahnya:
      • Pos 1 (Alam Batang): Menganalisis Oryza sativa (padi vs ilalang) sebagai simbol hukum tabur tuai kebaikan; tanaman Cikarau sebagai simbol larangan ingin untung tanpa bersusah payah (indak baluluak maambiak cikarau); serta Piper betle (sirih) dan pinang sebagai simbol keharmonisan rukun kembali pasca-perselisihan (siriah suruik ka gagangnya).
      • Pos 2 (Alam Binatang): Membedah kearifan lokal kerbau (Bubalus) dan emas (Ameh bapeti kabau bakandang) sebagai simbol mawas diri keamanan harta; prinsip adaptasi belalang (Lain padang lain bilalang); serta sindiran tajam udang (Crustacea) bagi orang buruk rupa yang tidak tahu diri (udang tak tau dibungkuaknyo).
      • Pos 3 (Alam Langik): Berlatih memprediksi cuaca secara motorik-visual melalui tanda awan (Gabak dihulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh); merumuskan nilai loyalitas sosial (Basamo ampek balenggang, basamo mati sampai ka langit); serta mensimulasikan teknik adaptasi perantau melalui kaidah hukum lokal tempat tinggal (Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang).
    • Eksplorasi Praktis Kepatuhan Aturan: Siswa mensimulasikan cara beradaptasi di lingkungan baru (misal: saat memasuki lingkungan sekolah baru atau menumpang di rumah kerabat) dengan menerapkan penghormatan penuh pada regulasi setempat.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Pepatah mengingatkan ‘urang tak tau diburuaknyo’ (seperti udang bungkuk). Bagaimana cara kita berkaca pada alam agar senantiasa mawas diri terhadap kekurangan pribadi dan mau memperbaikinya secara konsisten?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Uji Integrasi Sains, Spasial, jo Etika)

Siswa menyelesaikan uji lembar kerja mandiri berupa analisis komparatif sifat sains flora-fauna (misal: korelasi anatomi udang bungkuk dan perilaku manusia) serta menuliskan rancangan strategi adaptasi sosiologis di daerah perantauan.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Analisis Efisiensi & Inklusi SosialTepat merinci 8 fungsi material kayu serta mahir mengaitkan fungsi keterbatasan manusia (buto, pakak, lumpuah) dalam keadilan sosial.Memahami kegunaan kayu dan peran manusia, namun kurang tajam dalam membedah nilai inklusi sosialnya bagi masyarakat.Abai terhadap potensi efisiensi benda sekitar dan merendahkan orang yang memiliki keterbatasan.
2Eksplorasi Alam Batang jo BinatangMampu memerinci makna filosofis padi-ilalang, cikarau, sirih-pinang, kerbau, dan udang bungkuk secara mendalam dan kontekstual.Mengetahui petuah flora dan fauna, tetapi analisis hubungan karakteristik biologis dengan pesan moral perilaku belum utuh.Tidak memahami kiasan alam batang dan binatang; bersikap tidak tahu diri (bak udang dibungkuaknyo).
3Komitmen Regulasi Diri & Adaptasi (Langik)Sangat peka membaca tanda perubahan cuaca alam, setia dalam persahabatan, dan konsisten mempraktikkan aturan dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang.Mampu memahami kewajiban mematuhi peraturan daerah tempat tinggal, namun belum konsisten menerapkannya di lingkungan sekolah.Bersikap angkuh di tempat baru, melanggar aturan lokal, dan tidak setia dalam ikatan pertemanan kelompok.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 2: REFLEKSI UTUH BAB V (JENIS ALAM JO ADAPTASI SOSIAL)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab V tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh materi Bab V (Alam Takambang Jadi Guru). Mereka telah belajar menghargai potensi diri, inklusi sesama, kerja keras tanpa pintasan curang, mawas diri menjaga kepemilikan, loyalitas pertemanan, serta kecakapan beradaptasi sosial. Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengmati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menghargai setiap anggota keluarga dan membantu menempatkan barang/potensi rumah tangga secara efisien tanpa mubazir.[ ][ ]
2Ananda mau berusaha keras, mandiri mengerjakan tugas, dan menjauhi mentalitas ingin untung tanpa bersusah payah (filosofi Cikarau).[ ][ ]
3Ananda mawas diri menjaga keamanan barang berharganya sendiri di rumah dengan tertib dan rapi (filosofi Ameh bapeti kabau bakandang).[ ][ ]
4Ananda pandai menyesuaikan diri dengan tatanan aturan rumah tangga, sopan mengikuti kebiasaan baik lingkungan sekitar, dan setia kawan.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab V:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap kemandirian, kemampuan adaptasi aturan, dan kepekaan sosial ananda di rumah setelah menyelesaikan bab ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB VI

LIMBAGO NAN SAPULUAH

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Esensi Limbago Nan Sapuluah dan Parameter Hukum Cupak Nan Duo.
    • Pertemuan 2 : Pola Pengambilan Keputusan Melalui Sistem Kato Nan Ampek.
    • Pertemuan 3 : Eksplorasi Struktur Teritorial melalui Undang Luhak jo Rantau serta Undang Nagari.
    • Pertemuan 4 : Penegakan Ketertiban Warga Melalui Undang Dalam Nagari dan Undang Nan Duo Puluah.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Berakhlak Mulia & Anti-Perselisihan: Mampu memegang teguh tali aturan agama Allah, mencegah perpecahan (QS. Ali Imran: 104-105; QS. Luqman: 18), serta menjadikan Kitabullah sebagai kompas hidup agar tidak sesat (HR. At-Tirmidzi).
    • Kompetensi Demokratis & Bernalar Kritis: Memahami institusi tata hukum tradisional Minangkabau secara investigatif untuk mewujudkan keadilan sosial, objektivitas hukum, dan konsistensi hasil mufakat tanpa sistem voting (pemungutan suara).
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Halaman 101–120.
    • Media Pendukung: Alat takaran fisik tradisional (literan/cupak kayu), bagan struktur konstitusi Limbago Nan Sapuluah, peta wilayah Luhak jo Rantau, dan naskah skenario sengketa adat.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Esensi Limbago Nan Sapuluah jo Cupak Nan Duo

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan konsep etimologis limbago dengan lembaga modern, mendeteksi 10 pilar penegakan hukum adat, serta mengevaluasi parameter keadilan objektif pada komponen Cupak Usali dan Cupak Buatan (Tiruan jo Piawai).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa istilah kata limbago dalam adat Minangkabau dianalogikan seperti kecambah biji yang sedang membelah diri untuk tumbuh?”
    • “Bagaimana cara seorang hakim adat menjatuhkan putusan adil berdasarkan prinsip ‘bakato bana, mahukum adia‘?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tegap tegak, memimpin doa, dan membaca QS. Luqman: 18 serta QS. Ali Imran: 104-105 tentang perintah bersatu teguh memegang agama Allah dan larangan bercerai-berai.
    • Siswa meresapi makna integrasi syara’ dan adat melalui landasan hadis riwayat At-Tirmidzi tentang kewajiban memegang teguh Kitabullah.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Konstitusi: Siswa mengamati papan bagan Limbago Nan Sapuluah (Wadah penampung semua urusan hukum adat yang berjumlah 10, terdiri atas Cupak nan Duo, Kato nan Ampek, dan Undang nan Ampek). Siswa membedakan makna limbago (tempat tuangan adat yang dinamis) dengan lembaga (organisasi bentukan fisik).
    • Klinik Parameter Hukum (Numerasi & Ukuran):
      • Siswa mengamati alat ukur takaran tradisional (Cupak fisik). Siswa menganalisis fungsi fungsional cupak sebagai simbol parameter penyelesaian sengketa di nagari.
      • Siswa membedah Cupak Usali: takaran mutlak yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah (bakato bana-mahukum adia).
      • Siswa membedah Cupak Buatan (Tiruan & Piawai): instrumen buatan manusia (Dkt. Katumanggungan & Parpatiah Nan Sabatang) hasil Bai’ah Marapalam yang tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an.
    • Simulasi Motorik Objektivitas Hukum: Siswa berpasangan mempraktikkan gestur tubuh tegak lurus seimbang sebagai simbol visual penolakan tebang pilih hukum (Tibo dimato indak dipiciangkan, tibo didado indak dibusuangka, tibo diparuik indak dikampihkan).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Cupak mengajar kita tentang pentingnya parameter yang jujur. Bagaimana kita sebagai siswa menerapkan parameter kejujuran objektif ini saat menilai hasil kerja kelompok teman sendiri?”

PERTEMUAN 2: Pola Pengambilan Keputusan Sistem Kato Nan Ampek

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu memerinci 4 tingkatan pernyataan hukum adat (Kato Pusako, Kato Mufakat, Kato Dahulu, Kato Kudian) serta menyimulasikan proses musyawarah mufakat tanpa mekanisme voting (pemungutan suara terbanyak).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa dalam sistem demokrasi Minangkabau, keputusan mutlak diambil melalui kebulatan mufakat dan bukan melalui hitungan suara terbanyak (voting)?”
    • “Apa perbedaan mendasar antara Kato Dahulu dengan Kato Kudian dalam proses pembaruan hukum adat?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam posisi lingkaran musyawarah, lalu melantunkan petitih pengikat mufakat: “Kok lah dapek kato sabuah, nan bulek pantang basuduik, nan pipiah pantang basandiang; tapauik makan lantak, takuruang makanan kunci”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Langgam Regulasi: Siswa menguraikan definisi operasional 4 instrumen rujukan perilaku (Kato Nan Ampek):
      1. Kato Pusako: Fatwa adat abadi titian nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun dan bersumber dari hukum alam serta syariat Islam.
      2. Kato Mufakat: Hasil mufakat bulat musyawarah dinamis. Siswa menganalisis secara kritis mengapa voting ditolak demi menjaga agar keputusan yang pipih tidak bersanding dan yang bulat tidak bersudut.
      3. Kato Dahulu: Kesepakatan masa lalu yang wajib ditaati tanpa ragu-ragu (Kato Dahulu batapati).
      4. Kato Kudian: Aturan baru yang dicari melalui kajian intensif para pemuka adat (Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai) karena dinamika pemikiran manusia (pangana indak sakali tibo).
    • Simulasi Sidang Kerapatan Adat (Role Play): Siswa dibagi dalam peran kepemimpinan adat unsur Tungku Tigo Sajarangan. Mereka diberikan sebuah kasus sengketa sosial sekolah (misal: penentuan aturan baru penggunaan gawai di kelas). Siswa dilatih berdebat argumen, menguji keselarasan dengan Kato Pusako (agama), hingga berhasil menelurkan Kato Kudian yang disepakati bulat 100% tanpa voting.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir sesi: “Ketika kata sepakat telah terikat, ia mengurung kita seperti kunci (takuruang makanan kunci). Sudahkah kita memiliki komitmen tinggi untuk menaati setiap aturan bersama di kelas yang telah kita sepakati?”

PERTEMUAN 3: Eksplorasi Undang Luhak jo Rantau serta Undang Nagari

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu merinci pembagian kepemimpinan wilayah berdasarkan Undang Luhak jo Rantau serta menganalisis prasyarat berdirinya sebuah Nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang sah di Minangkabau.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mendasar dari sistem kepemimpinan di wilayah Luhak dengan wilayah Rantau menurut undang adat Minangkabau?”
    • “Mengapa Nagari disebut sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang independen dan mandiri di Minangkabau?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan mengondisikan barisan duduk siswa, memimpin doa, dan mengaitkan ketertiban wilayah dengan petuah kebersamaan.
    • Siswa meresapi makna kepemimpinan regional melalui pameo adat: “Luhak bapanghulu, rantau barajo”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Pemetaan Teritorial (Numerasi Geografis):
      • Siswa mengamat peta wilayah kebudayaan Minangkabau yang terbagi atas Luhak Nan Tigo (Tanah Datar, Agam, Lima Puluh Kota) dan wilayah Rantau/Pasisie.
      • Siswa menganalisis perbedaan sebutan dan otoritas pemimpin: Wilayah Luhak dipimpin oleh Penghulu (bergelar Datuak) di dalam lembaga Ninik Mamak, sedangkan wilayah Rantau/Pasisie dipimpin oleh Rajo atau Rang Kayo.
    • Studi Kasus Konstitusi Konsep “Undang Nagari”: Siswa melakukan literasi kritis membaca syarat-syarat berdirinya sebuah Nagari tradisional (Numerasi sosial: menganalisis syarat fisik kelengkapan Nagari seperti adanya Balai Adat, Masjid, Surau, Labuah, jo Tepian).
    • Permainan Peran Batas Otoritas (Role Play): Siswa dibagi dalam kelompok simulasi interaksi diplomatik antara rombongan Penghulu Luhak dengan rombongan Utusan Rajo Rantau untuk mempraktikkan tutur bahasa yang menghormati batas wilayah kewenangan masing-masing sesuai undang adat.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Undang Luhak jo Rantau mengajarkan kita untuk menghargai pembagian tugas dan kepemimpinan. Bagaimana kita menerapkan sikap menghormati batas tugas tersebut dalam kepengurusan kelas kita sehari-hari?”

PERTEMUAN 4: Ketertiban Sosial melalui Undang Dalam Nagari jo Undang Nan 20

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengevaluasi tata aturan interaksi warga pada Undang Dalam Nagari (Sosial, Ekonomi, Keamanan, Agama) serta mengidentifikasi delik pelanggaran pidana/kriminalitas berdasarkan instrumen hukum Undang Nan Duo Puluah.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa warga nagari wajib tunduk pada aturan ketertiban Undang Dalam Nagari? Apa dampak jangka panjang bagi kesejahteraan mereka?”
    • “Bagaimana cara Undang Nan Duo Puluah mengklasifikasikan jenis kejahatan besar seperti perampokan atau pembunuhan di Minangkabau?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dan menunjuk seorang siswa memimpin pembacaan ulang komitmen moral Undang Adat Nan Salapan pada bab sebelumnya untuk mengungkit memori penegakan hukum pidana.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Regulasi Warga:
      • Undang Dalam Nagari: Siswa menganalisis teks aturan yang mengikat hubungan antarwarga nagari dalam sektor utama: Sosial, Ekonomi, Keamanan, Hukum, dan Agama. Siswa mendiskusikan pentingnya mematuhi aturan demi terciptanya stabilitas keamanan umum.
      • Undang Nan Duo Puluah (Numerasi Kriminalitas): Siswa membedah struktur undang-undang pidana adat yang mengatur delik pelanggaran, kesalahan, dan kejahatan fisik (seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, dsb.).
    • Simulasi Peradilan Sekolah (Role Play Pola Deep Learning):
      • Siswa mensimulasikan sidang penegakan ketertiban di lingkungan sekolah (Studi kasus: menyelesaikan masalah pencurian barang atau perundungan antarwarga kelas).
      • Siswa berperan menjadi perangkat ketertiban (Dubalang kelas) dan pengadil (Ninik Mamak kelas) untuk menguji pelanggaran siswa menggunakan indikator Undang Dalam Nagari dan Undang Nan 20 guna menjatuhkan sanksi moral yang mendidik tanpa kekerasan fisik.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Ketika ketertiban hukum ‘Undang Nan Ampek’ ini runtuh, maka runtuh pula ketenteraman hidup bermasyarakat. Apa kontribusi nyata terkecil yang bisa kamu lakukan untuk menjaga keamanan kelas kita dari tindakan kriminal seperti mencuri atau komplotan usil?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Peta Struktur Konstitusi Limbago Nan Sapuluah)

Siswa menyelesaikan lembar kerja mandiri berupa pembuatan bagan struktur hierarki lengkap isi Limbago Nan Sapuluah (2 Cupak, 4 Kato, dan 4 Undang) disertai dengan penjelasan fungsional masing-masing komponen terhadap penegakan hukum di Minangkabau.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Preposisi Perbaikan)
1Analisis Pemahaman Konsep CupakMampu membedakan Cupak Usali (Al-Qur’an) dan Cupak Buatan, serta menjabarkan prinsip keadilan objektif anti-tebang pilih secara lurus.Memahami fungsi cupak sebagai parameter hukum, namun analisis pembagian Cupak Tiruan dan Piawai masih tertukar.Tidak mengetahui arti cupak; mendukung praktik tebang pilih hukum dalam memutus masalah.
2Kecakapan Musyawarah MufakatMenolak sistem voting, konsisten mencari mufakat bulat, dan patuh mengikat diri pada hasil keputusan bersama (tapauik makan lantak).Menghargai hasil musyawarah, namun terkadang masih mengusulkan pemungutan suara terbanyak (voting) saat diskusi buntu.Bersikap otoriter, memaksakan kehendak sendiri, dan melanggar kesepakatan kelompok yang telah dibuat.
3Diferensiasi Komponen Undang Nan AmpekTepat memetakan perbedaan kepemimpinan Penghulu (Luhak) dan Rajo (Rantau), memahami fungsi tata tertib Undang Dalam Nagari dan fungsi penegakan hukum Undang Nan 20.Mampu menghafal empat jenis undang, namun keliru menempatkan yurisdiksi kepemimpinan teritorial adat.Gagal mengidentifikasi pembagian instrumen hukum dalam sistem Undang Nan Ampek.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokasi Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 1: REFLEKSI UTUH BAB VI (LIMBAGO NAN SAPULUAH)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab VI tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab VI mengenai Limbago Nan Sapuluah. Mereka belajar memahami parameter keadilan (Cupak), kesepakatan mufakat (Kato), serta tatanan hukum ketertiban teritorial wilayah warga (Undang). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda bertindak adil, jujur, dan objektif dalam memperlakukan anggota keluarga tanpa bersikap pilih kasih (Tibo dimato indak dipiciangkan).[ ][ ]
2Ananda mengutamakan jalan diskusi, musyawarah, dan mufakat bersama keluarga untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di rumah.[ ][ ]
3Ananda menunjukkan sikap menghormati pembagian tugas di rumah dan patuh pada figur pemimpin keluarga (orang tua).[ ][ ]
4Ananda memiliki kesadaran hukum yang tinggi (menjauhi perbuatan merusak, tidak mengambil barang orang lain, dan menjaga kedamaian sosial).[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab VI:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap kedewasaan ananda dalam menegakkan aturan bersama, bermusyawarah, dan menjaga ketertiban di rumah minggu ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB VIII

PERMAINAN TRADISI (BAGIAN III – LENGKAP)

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (4 x 40 Menit) + 1 Minggu Tugas Projek
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 8 : Taktik Spasial Akurasi Main Lore (Engklek) jo Penalaran Matematis Patok Lele (Gatrik).
    • Pertemuan 9 : Refleks Strategis Pijak Bayang jo Integrasi Seni Kolektif Kebudayaan Randai.
    • Tugas Projek : Projek Kolaboratif Kewirausahaan Sosial & Pembuatan Video Dokumenter Literasi Digital.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Kebugaran Jasmani & Kreativitas: Mengembangkan ketangkasan motorik kasar-halus yang sigap, tangkas, dan efisien laksana langkah Rasulullah SAW (HR. Muslim) serta bijak membagi waktu usaha dan istirahat (QS. Al-Furqan: 47).
    • Kompetensi Gotong Royong & Literasi Digital: Membina hubungan kolaborasi, kerja sama tim seirama, keluwesan gerak silat, serta kecakapan mengomunikasikan kearifan lokal melalui platform media sosial digital.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Bab VIII.
    • Media Pendukung: pecahan kaca datar (stonek) atau uang koin koin, dua potong kayu patok lele (induk 30 cm, anak 15 cm), halaman sekolah/area terbuka teduh-panas, pakaian silek, dan kamera gawai (smartphone) untuk perekaman projek video.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi fungsional.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 2 PERTEMUAN LANJUTAN & PROJEK)

PERTEMUAN 8: Taktik Spasial Main Lore jo Penalaran Angka Patok Lele

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendemonstrasikan akurasi motorik melempar koin/stonek tepat sasaran pada kotak Main Lore serta mengoperasikan perhitungan mekanika jarak dorong kayu anak dalam Patok Lele.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa dalam Main Lore, lemparan pecahan kaca (stonek) yang keluar dari garis kotak persegi langsung menggugurkan giliran bermain kita?”
    • “Bagaimana cara menentukan kemenangan antar-grup dalam permainan Patok Lele berdasarkan akumulasi jarak pukulan?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas di lapangan terbuka, memimpin doa, dan mengulas sifat permainan musiman anak nagari Minangkabau yang dinamis mengikuti siklus waktu (berkelanjutan 2 bulan sekali berganti jenis).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Pola Persegi (Main Lore): Siswa mengamati pola ukiran kotak-kotak persegi di atas tanah datar (Kecamatan Lembah Gumanti). Siswa dibagi 2 kelompok dan melakukan undian (suit). Pemain melatih motorik halus melempar stonek (kaca datar/koin pecahan Rp100, Rp500, atau Rp1000) tepat ke dalam kotak, lalu melompat dengan satu kaki secara presisi. Jika gacoan/stonek menyentuh atau keluar garis, giliran beralih secara sportif.
    • Laboratorium Numerasi & Pukulan (Patok Lele): Siswa mengidentifikasi diameter alat (3 cm) dan rasio panjang kayu (Induk 30 cm : Anak 15 cm | Perbandingan numerasi 2:1). Dua kelompok bertanding menerapkan sifat edukatif, rekreatif, dan kompetitif. Siswa melatih motorik kasar memukul ujung anak kayu agar melambung tinggi, lalu menghantamnya sekuat tenaga ke arah garis finish. Siswa melakukan perhitungan jarak total menggunakan satuan panjang kayu induk untuk menentukan akumulasi poin kemenangan tim.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Dalam bermain patok lele, konsentrasi koordinasi mata dan tangan saat menghantam anak kayu sangat menentukan jarak poin. Bagaimana cara kita menjaga fokus belajar di kelas agar target prestasi kita tercapai maksimal?”

PERTEMUAN 9: Refleks Cerdik Pijak Bayang jo Sinkronisasi Seni Randai

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu memanipulasi posisi tubuh dan kontur bayangan cahaya dalam Pijak Bayang serta menyelaraskan komando aba-aba gerak langkah silek-drama melingkar secara rempak dalam seni Randai.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Bagaimana cara para pemain mengecoh pengejar dalam permainan Pijak Bayang menggunakan trik area teduh?”
    • “Apa fungsi krusial dari seorang Panggoreh dan Janang dalam menjaga keserasian gerakan seirama sebuah pertunjukan Randai?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas membentuk formasi lingkaran besar (legaran randai), memicu kesadaran fisik siswa mengenai keselarasan tempo gerak tubuh kelompok.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Taktik Gerak Manipulatif (Pijak Bayang): Siswa menentukan satu penjaga bayangan lewat undian. Siswa melatih gerak taktis melarikan diri mencari perlindungan di tempat teduh (menggunakan logika geometri jatuhnya bayangan matahari). Siswa secara berkala melompat keluar ke area panas untuk memberikan tantangan refleks motorik bagi pengejar guna menginjak bayangan tubuhnya.
    • Seni Pertunjukan Kolektif Kebudayaan (Randai): Siswa membedah struktur integrasi seni Randai yang menggabungkan unsur lagu, musik, tari, drama, dan silek (silat).
      • Satu siswa ditunjuk menjadi Panggoreh (pemimpin legaran gerak) yang bertugas mengeluarkan teriakan aba-aba khas motorik lisan (“Hep tah tih!”) untuk memimpin cepat-lambatnya tempo gerakan seiring Gurindam.
      • Satu siswa bertugas menjadi Janang (penuntun jalan cerita).
      • Siswa bersama-sama melatih gerakan langkah kaki silat secara perlahan, rempak, seirama, dan disiplin fisik menempuh durasi simulasi (melatih ketahanan stamina jiwa raga / tubuah nan kuaik). Cerita yang diangkat diselaraskan dari realitas pesan nasihat kehidupan masyarakat nyata.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Pertunjukan randai membutuhkan keharmonisan mutlak seluruh anggota tim yang patuh pada satu komando panggoreh. Jika ego individu menonjol, gerakan lingkaran akan berantakan. Nilai keselarasan sosial apa yang bisa kita petik untuk membangun kedamaian kelas?”

III. TUGAS PROJEK BERKELOMPOK (DEEP LEARNING LITERASI DIGITAL)

Instruksi Kerja Projek:

  1. Praktik Lapangan Kolektif: Bentuklah kelompok kerja (terdiri atas 4–5 siswa). Pilih salah satu jenis permainan tradisional Minangkabau yang paling disenangi di lingkungan sekolah atau sekitar perkampungan rumahmu.
  2. Produksi Konten Kreatif (Video Dokumenter): Rancang dan buatlah sebuah video pendek berdurasi 3–5 menit menggunakan kamera gawai yang mendokumentasikan:
    • Nama permainan dan asal-usul kearifan lokalnya di kampungmu.
    • Alat material sederhana yang digunakan dari alam sekitar beserta rincian cara pembuatannya.
    • Demonstrasi visual nyata tata cara dan aturan baku memainkan permainan tersebut secara jujur dan sportif.
  3. Publikasi Edukatif Digital: Unggah (upload) hasil video kreatif kelompok tersebut ke platform media sosial resmi (seperti YouTube, Instagram, atau TikTok) milik kelompok atau sekolah sebagai aksi nyata pelestarian budaya anak nagari Minangkabau di era modern.

IV. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING – GABUNGAN)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja Projek Video & Praktik)

Siswa dinilai berdasarkan produk akhir kualitas konten edukasi video media sosial kelompok (koreksi kebenaran aturan main, kerja sama tim, kreativitas visual) serta uji kompetensi praktik keselarasan gerakan randai kelas.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Akurasi Spasial Main Lore jo Patok LelePresisi melempar gacoan koin/stonek, disiplin melompat satu kaki, dan terampil mengalkulasi penjumlahan poin kayu patok lele.Mampu melompat dan memukul kayu patok lele, namun akurasi hitungan jarak poin satuan kayu masih kurang tepat.Melempar gacoan asal-asalan, tidak tahu batas garis mati kotak lore, atau bermain curang saat menghitung poin.
2Keselarasan Gerak Silek jo Tempo RandaiGerakan kaki melingkar sangat rempak, sigap mengikuti aba-aba teriakan panggoreh (hep tah tih), dan menjiwai pesan gurindam cerita.Mengikuti legaran lingkaran randai, namun transisi gerakan silat terkadang lambat dan kurang seirama dengan tempo ketukan.Gerakan kacau, merusak formasi lingkaran, tidak peduli aba-aba pemimpin, atau keluar barisan karena kelelahan.
3Kualitas Produk Video Projek (Digital)Video memuat edukasi aturan main yang sangat jelas, audio bersih, visual tajam, kerja sama solid, dan sukses mengunggah di medsos.Video memuat cara bermain, namun kualitas editing visual/audio masih kurang rapi atau belum menyertakan nilai kearifan lokalnya.Gagal memproduksi video, tidak melakukan kerja kelompok, atau konten video melanggar sportivitas aturan bermain.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 3: REFLEKSI AKHIR BAB VIII (PROJEK PERMAINAN TRADISI JO LITERASI DIGITAL)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pengunggahan video projek kelompok selesai)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab VIII mengenai Permainan Tradisi. Pada bagian penutup ini, mereka belajar melatih taktik akurasi (Lore), ketangkasan gerak (Patok Lele), kelincahan refleks (Pijak Bayang), keselarasan seni budaya (Randai), serta keterampilan mengomunikasikan nilai luhur bangsa melalui teknologi (Tugas Projek Video). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menunjukkan sportivitas yang tinggi, jujur, serta patuh berkomitmen pada aturan hukum kesepakatan bersama.[ ][ ]
2Ananda terbiasa mengendalikan emosi, mampu menyeimbangkan waktu gerak fisik dengan pemanfaatan gawai secara bijak dan edukatif.[ ][ ]
3Ananda proaktif bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok secara bertanggung jawab, bergotong royong, dan tenggang rasa.[ ][ ]
4Ananda mampu mengambil hikmah, pesan moral, dan nasihat baik dari nasihat orang tua/guru untuk diimplementasikan dalam perilaku.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Sesi Bab VIII:

“Bagaimana pendapat Ayah/Bunda mengenai dampak tugas projek pelestarian permainan tradisional berbasis pembuatan video digital ini terhadap tanggung jawab dan kreativitas sosial ananda di rumah?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB IX

LAMBANG DAN SIMBOL ADAT MINANGKABAU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Definisi Simbol Adat dan Filosofi Tiga Warna Marawa Minangkabau.
    • Pertemuan 2 : Estetika dan Ketentuan Pemasangan Perlengkapan Pelaminan (Darek jo Rantau).
    • Pertemuan 3 : Arsitektur, Konstruksi Tangguh Gempa, dan Pembagian Ruang Rumah Gadang.
    • Pertemuan 4 : Filosofi Ragam Hias Ukiran (Bada Mudiak, Itiak Pulang Patang) dan Ketahanan Pangan Rangkiang.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Akhlak Luhur & Menjaga Identitas: Mampu menjaga kemurnian tauhid dari muka hitam kemuraman (QS. Ali-Imran: 106) serta kokoh mempertahankan orisinalitas identitas budaya Islam-Minang tanpa meniru-niru kaum lain secara buta (HR. Abu Daud).
    • Kompetensi Bernalar Kritis & Tanggap Ekologis: Memiliki ketajaman berpikir sains-teknologi dalam membaca tanda alam (Ayat Kauniyah), menghargai kearifan arsitektur lokal tangguh bencana, serta menginternalisasi nilai keteraturan dan ketahanan pangan.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Bab IX.
    • Media Pendukung: Kain kain Marawa (Hitam, Kuning, Merah), video penjelasan Daulat Yang Dipertuan Gadih Pagaruyung (Prof. DR. Ir. Hj. Puti Reno Raudhatul Jannah, M.P.), miniatur maket Rumah Gadang dan Rangkiang, gambar ornamen ukiran tradisional.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi fungsional.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Hakikat Simbol jo Filosofi Tiga Warna Marawa

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendefinisikan makna etimologis simbol, mengevaluasi perbedaan orientasi pemasangan bendera Marawa, serta menganalisis makna filosofis warna Hitam, Kuning, dan Merah bagi kepemimpinan sosial.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa dalam aturan adat, posisi warna kuning pada bendera Marawa wajib diletakkan tepat di bagian tengah?”
    • “Apa konsekuensi sosiologis jika kita salah memasang urutan warna bendera kebesaran adat Minangkabau?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tegap dan membaca QS. Ali-Imran: 106 mengenai peringatan hari berserinya muka putih dan muramnya muka hitam kafir.
    • Siswa meresapi larangan meniru identitas kaum lain secara buta berdasarkan hadis riwayat Abu Daud.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Etimologi: Siswa menelaah kata simbol (symballo / melempar bersama dalam satu ide gagasan objek visual). Siswa menyimpulkan bahwa lambang di Minangkabau mengacu pada prinsip Alam Takambang Jadi Guru dan memiliki pakem ketat yang tidak boleh dibalik-balik maknanya.
    • Analisis Kritis Ragam Pendapat Warna (Marawa):
      • Teori Wilayah: Membedah pendapat warna berdasarkan pembagian tiga luhak (Hitam → Lima Puluh Kota, Kuning → Tanah Datar, Merah → Agam).
      • Teori Kepemimpinan (Puti Reno Raudha Thaib): Menonton tayangan kanal YouTube Mulok Keminangkabauan dan merinci arti warna: Hitam (kearifan, keteguhan kepemimpinan penghulu/tahan sasah, diikatkan di tonggak), Kuning (kebesaran raja, agung), dan Merah/Sirah (keberanian dubalang sebagai pemagar kampung, tegak di luar). Siswa merasionalkan posisi kuning di tengah karena dikawal ketat oleh hitam dan merah.
    • Simulasi Motorik Pemasangan Marawa: Siswa mempraktikkan keterampilan motorik memasang bendera Marawa utama di gerbang sekolah secara simetris kiri-kanan saat program Sahari dalam Sapakan Berbudaya, didampingi marawa berukuran lebih kecil (Numerasi skala).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Warna hitam mencerminkan sifat pemimpin yang ‘tahan tapo’ atau kokoh menghadapi ujian. Bagaimana kita meniru sifat warna hitam ini ketika menerima kritikan atau nasihat dari guru dan orang tua?”

PERTEMUAN 2: Ragam Geografis jo Perangkat Pelaminan Minangkabau

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengelompokkan perbedaan warna pelaminan berdasarkan wilayah geografis (Darek jo Rantau), merunut latar sejarah asal-usul pelaminan dalam Kaba Cindua Mato, serta menempatkan tata letak perangkat interior secara tepat.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa desain interior pelaminan tradisional Minangkabau dilarang keras diletakkan di luar rumah atau di tepi jalan umum?”
    • “Apa perbedaan dominasi warna antara pelaminan daerah Darek (pedalaman) dengan daerah Rantau (pesisir)?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan memperkenalkan akar kata pelaminan dari kata lamin (hiasan) atau kelamin (peraduan sepasang suami-istri yang sah secara syariat-adat).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Pemetaan Geografis Warna (Numerasi Komparatif):
      • Siswa membuat tabel perbandingan warna pelaminan: Daerah Darek mendominasi warna gelap (sirah kasumbo, ijau kumbang jati, kuniang gadiang, hitam) dengan jalinan merah-kuning-hitam. Daerah Rantau/Pasisia mendominasi warna cerah (ijau lauik, sirah lado, kuniang kunik, kuniang ameh, jo perak/hijau-merah).
    • Literasi Sejarah (Kaba Cindua Mato): Siswa membaca kisah peminangan Bundo Kanduang oleh 7 raja mancanegara, termasuk hadiah perangkat pelaminan terakhir dari negeri Cina. Tradisi ini dilestarikan dalam perhelatan nikah untuk menghargai ikatan silaturahmi antar-kaum.
    • Projek Penataan Spasial Perlengkapan Interior: Siswa menyusun miniatur/gambar tata letak perangkat pelaminan tepat di depan kamar arah ke tengah menghadap pintu masuk Rumah Gadang. Siswa memerinci fungsi 3 perangkat utama: (1) Tirai Kolom penutup loteng dengan manik-manik, (2) Tabie kain penutup dinding, dan (3) Permadani penutup lantai tempat duduk khidmat.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Pelaminan diletakkan di dalam rumah untuk menjaga kehormatan dan kesucian acara keluarga. Bagaimana kita menjaga privasi dan kehormatan diri kita sendiri dalam berinteraksi di lingkungan sosial digital?”

PERTEMUAN 3: Arsitektur Sains Rumah Gadang (Tangguh Gempa)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis filosofi bentuk atap gonjong laksana kapal, serta membuktikan keunggulan ilmiah teknologi konstruksi rumah gadang (batu sandi dan pasak) sebagai sistem arsitektur tangguh bencana gempa bumi.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Bagaimana cara nenek moyang orang Minangkabau memanfaatkan ‘batu sandi’ dan ‘pasak kayu’ untuk membuat rumah gadang lentur dan selamat dari gempa?”
    • “Mengapa atap gonjong yang runcing diibaratkan sebagai simbol kapal dalam ingatan sejarah Minangkabau?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengulas peran sentral perempuan melalui petuah luhur: “Bundo Kanduang, limpapeh rumah nan gadang, umbun puruak pegangan kunci… ka payuang panji ka Sarugo”. Siswa mengidentifikasi Rumah Gadang sebagai hak milik pusako tinggi kaum perempuan menurut garis ibu (Mandeh Soko).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Desain Atap: Siswa mengamati maket/gambar Rumah Gadang. Siswa mendiskusikan transformasi material atap kuno (ijuk tahan puluhan tahun) menuju material modern (seng) dengan mempertahankan bentuk runcing gonjong laksana kapal penjelajah samudera leluhur.
    • Laboratorium Sains Tradisional (Konstruksi Anti-Gempa):
      • Siswa membedah rahasia arsitektur lokal yang diakui ahli konstruksi dunia.
      • Siswa menganalisis fungsi Batu Sandi: pondasi tanpa semen yang berfungsi sebagai pelepas getaran tanah, memangkas dan mendistribusikan gaya guncangan ke seluruh bangunan atas.
      • Siswa menganalisis fungsi Pasak Kayu: pengganti paku besi yang memberikan tingkat fleksibilitas/kelenturan motorik bangunan untuk bergoyang mengikuti arah gempa tanpa risiko patah struktural (Numerasi elastisitas teknik).
    • Permainan Peran Demonstrasi Fisika: Siswa membuat simulasi mekanika sederhana menggunakan balok kayu kecil di atas landasan batu untuk memperagakan kelenturan rumah gadang saat menerima simulasi guncangan horizontal meja.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Reflective Closing: Guru memandu refleksi: “Konstruksi rumah gadang tidak melawan kekuatan gempa, melainkan mengimbangi dan menyelesaikannya secara lentur. Bagaimana cara kita mengendalikan diri secara lentur saat menghadapi tekanan tugas sekolah atau perbedaan pendapat agar tidak mudah stres?”

PERTEMUAN 4: Karakter Ornamen Ukiran jo Ketahanan Pangan Rangkiang

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendekonstruksi nilai akhlakul karimah pada motif ukiran dinding (Bada Mudiak, Itiak Pulang Patang) serta mengevaluasi sistem manajemen logistik pangan pada bangunan Rangkiang.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Pelajaran kedisiplinan dan kebersamaan apa yang bisa kita ambil dari pola kehidupan itik dalam motif ukiran ‘Itiak Pulang Patang‘?”
    • “Bagaimana struktur fisik bangunan Rangkiang dirancang untuk melindungi logistik makanan dari ancaman hama pangan?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam suasana tenang, meminta siswa memperhatikan kerapian gambar ornamen ukiran yang terpasang di dinding kelas sebagai stimulus visual keindahan alam.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Klinik Ragam Hias (Internalisasi Akhlak): Siswa membedah pola garis melingkar-persegi tumbuhan merambat dinding rumah gadang:
      • Motif Bada Mudiak: Menguraikan makna kerukunan seia sekata, satu arah tujuan hidup, serta bahaya perpecahan internal kaum (cilako basilang).
      • Motif Itiak Pulang Patang: Menganalisis karakter sosiologis hewan itik (berjalan tertib beriringan di pematang, tidak saling sikut, dan reflek kompak turun ke tebing menyelamatkan teman yang jatuh). Siswa mengonstruksi nilai: menolak saling sikut dalam mencari nafkah dan mengutamakan kesejahteraan bersama.
    • Analisis Manajemen Logistik (Rangkiang Ketahanan Pangan):
      • Siswa mengamati struktur arsitektur lumbung padi (Rangkiang) di halaman rumah gadang: beratap gonjong, pintu kecil berada di posisi atas segitiga loteng (singkok). Siswa membedah fungsi motorik penggunaan tangga bambu portabel yang bisa dipindah-pindahkan untuk meminimalisir akses pencurian/hama tikus (Kecakapan taktis pengamanan).
      • Siswa mendiskusikan arti penting kedaulatan pangan kaum yang mandiri tanpa ketergantungan pasokan luar.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi akhir bab: “Rangkiang mengajarkan kita untuk menyimpan kelebihan panen demi masa depan yang sulit. Bagaimana cara kita mengelola uang saku atau waktu luang kita hari ini agar memiliki ‘tabungan masa depan’ yang cukup?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Esai Investigatif Desain Tradisional)

Siswa menyelesaikan uji lembar kerja mandiri berupa analisis komparatif fungsional teknologi gempa (batu sandi vs pondasi semen kaku) serta merumuskan makna implementasi sosial dari ukiran Itiak Pulang Patang terhadap pencegahan aksi perundungan (bullying) di sekolah.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Analisis Teori Warna MarawaSangat mahir merinci arti warna hitam (penghulu), kuning (raja), merah (dubalang) serta ketepatan teknis operasional urutan pemasangannya.Memahami arti tiga warna marawa, namun penjelasan korelasi letak warna kuning di tengah sebagai posisi kawalan masih belum utuh.Tidak tahu nama bendera adat marawa dan memasang warna secara acak terbalik.
2Pengelompokan Spasial PelaminanTepat mengelompokkan dominasi warna pelaminan wilayah Darek dan Rantau, paham sejarah kaba, serta tata letak interior dalam rumah.Mengetahui perlengkapan pelaminan tirai dan tabie, namun kurang tepat dalam menganalisis alasan pelarangan letak di luar rumah.Menganggap pelaminan hanya sebagai dekorasi latar foto komersial tanpa memahami nilai kesucian adat-syara’.
3Sains Konstruksi Anti-GempaMampu menjabarkan fungsi fisika mekanika batu sandi (pelepas getaran) dan pasak kayu (fleksibilitas gerak bangunan) secara ilmiah.Mengetahui rumah gadang tahan gempa, namun penjelasan fungsional perbedaan paku besi dengan pasak kayu masih kurang akurat.Tidak memahami keunggulan arsitektur lokal, menganggap bangunan tradisional kuno dan tertinggal zaman.
4Internalisasi Nilai Ornamen jo RangkiangSukses mendekonstruksi nilai seia sekata motif Bada Mudiak/Itiak, serta paham manajemen kedaulatan pangan pintu atas Rangkiang.Memahami fungsi rangkiang sebagai lumbung padi kaum, namun belum mampu membedah makna keteraturan dari desain ukiran itik.Abai terhadap nilai kerja sama, suka berselisih, atau tidak tahu fungsi struktur fisik loteng singkok rangkiang.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 1: REFLEKSI UTUH BAB IX (LAMBANG DAN SIMBOL ADAT MINANGKABAU)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab IX tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab IX mengenai Lambang dan Simbol Adat Minangkabau. Mereka belajar memelihara kemurnian tauhid dan identitas diri (Marawa), menghargai hubungan keluarga (Pelaminan), mengagumi sains ketangguhan bencana (Rumah Gadang), meresapi nilai akhlak persatuan (Ukiran dinding), serta memahami kedaulatan logistik pangan (Rangkiang). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menunjukkan pendirian karakter yang kuat, teguh akidah, dan tidak ikut-ikutan tren luar yang merusak moral (Prinsip Marawa).[ ][ ]
2Ananda menunjukkan kelenturan sikap, sabar, dan mampu mengimbangi/menyelesaikan masalah keluarga secara tenang (Filosofi Pasak).[ ][ ]
3Ananda mengutamakan kerukunan hidup, tertib dalam antrean harian, seia sekata dengan saudara, dan menolak saling sikut (Ukiran Itiak).[ ][ ]
4Ananda bertindak hemat, rajin menabung, serta bijak mengelola ketersediaan logistik kebutuhan pribadinya tanpa boros (Sifat Rangkiang).[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab IX:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap keteguhan prinsip diri, kerukunan memperlakukan saudara, dan kedisiplinan hidup hemat ananda setelah tuntas mempelajari bab simbol adat ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB X

LAMBANG MATRILINEAL MINANGKABAU

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit)
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Konsep Struktur Matrilineal, Hakikat Bundo Kanduang, jo Limpapeh Rumah Nan Gadang.
    • Pertemuan 2 : Akuntabilitas Finansial Amban Puruak Pagangan Kunci jo Fungsi Integrasi Sosial Pusek Jalo Kumpulan Tali.
    • Pertemuan 3 : Etika Konsultasi Merantau (Kapai Tampek Batanyo, Kapulang Tampek Babarito) jo Estetika Sumarak dalam Nagari.
    • Pertemuan 4 : Tanggung Jawab Edukasi Spiritual Perempuan Minang (Unduang-Unduang ka Madinah, Payuang Panji ka Sarugo).
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Akhlak luhur & Menjaga Fitrah: Memuliakan kedudukan perempuan sebagai tiang ketenteraman rumah tangga, menjauhi perbuatan batil (QS. An-Nahl: 72), serta meyakini bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu (Hadis Nabi).
    • Kompetensi Mandiri & Regulasi Perilaku: Memiliki kontrol diri dan mawas diri tinggi untuk menjaga martabat lisan dan perangai (Kok roman nan indak dapek diubah, tapi kok laku jo parangai lai dapek baubah).
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Bab X.
    • Media Pendukung: Foto/Gambar pakaian adat Bundo Kanduang (hiasan kepala serupa atap Rumah Gadang), miniatur jala ikan, kunci replika tradisional, mukena (talakuang), dan lembar evaluasi studi kasus.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi fungsional.

II. KOMKOMPEN INTI (DESAIN 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Hakikat Bundo Kanduang jo Limpapeh Rumah Nan Gadang

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan makna harfiah dan struktural adat dari figur Bundo Kanduang (Mandeh Sako) serta mengevaluasi dualisme filosofis Limpapeh Rumah Nan Gadang sebagai simbol ketenangan perilaku dan tiang tengah penopang keluarga.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa dalam adat Minangkabau seorang perempuan atau ibu yang bijaksana diibaratkan sebagai tiang tengah bangunan rumah gadang?”
    • “Apa arti penting dari pituah Bundo: ‘Kok roman nan indak dapek diubah, tapi kok laku jo parangai lai dapek baubah’ bagi pembentukan karakter remaja?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tegak khidmat, memimpin doa, dan membaca QS. An-Nahl: 72 tentang karunia Allah yang menciptakan istri-istri, anak, dan cucu serta limpahan rezeki kebaikan.
    • Siswa meresapi pembacaan hadis nabi mengenai kemuliaan kedudukan ibu: “Surga itu di bawah telapak kaki-kaki para ibu…”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Analisis Konsep: Siswa mengamati gambar pakaian adat perempuan Minangkabau dengan hiasan kepala serupa bentuk atap Rumah Gadang. Siswa mendefinisikan Bundo Kanduang sebagai pemimpin wanita bijaksana (Mandeh Sako) yang melestarikan tatanan adat.
    • Klinik Semiotika Kupu-Kupu jo Tiang (Deep Learning):
      • Kiasan Kupu-Kupu Besar: Siswa menganalisis sifat kupu-kupu yang hinggap tenang. Siswa mengonstruksi nilai karakter perempuan beradat: tenang, tidak liar, tidak suka kelayapan keluar rumah tanpa tujuan, tidak bertandang kosong, dan menolak bergunjing demi menjaga kedamaian rumah.
      • Kiasan Tiang Penyangga Utama: Siswa membedah arti Limpapeh secara fisik arsitektur sebagai tiang tengah terbesar yang menopang seluruh beban bangunan. Siswa merasionalkan fungsi perempuan sebagai pusat kekuatan moral dan penjaga keutuhan rumah tangga (Numerasi beban struktur bangunan).
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Jika perempuan adalah limpapeh atau tiang penyangga rumah gadang, apa dampaknya bagi keutuhan keluarga jika tiang tersebut rapuh akibat perilaku yang buruk (buruak urang dek lakunyo)?”

PERTEMUAN 2: Manajemen Amban Puruak jo Integrasi Pusek Jalo

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendeteksi akuntabilitas finansial perempuan sebagai pemegang rahasia dan harta pusaka kaum (Amban Puruak Pagangan Kunci), serta mendemonstrasikan fungsi koordinasi sosial Pusek Jalo Kumpulan Tali.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa peran perempuan Minangkabau dalam memegang kunci brankas rumah tangga diibaratkan seperti wadah penyimpanan aluang bunian?”
    • “Nilai kepemimpinan dan panutan apa yang diwakili oleh simbol pusat jala penangkap ikan (Pusek Jalo)?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dan membacakan petitih jangkar materi: “Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci, pusek jalo kumpulan tali…”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Analisis Akuntabilitas Finansial (Amban Puruak Pagangan Kunci): Siswa membedah makna perempuan sebagai pemegang kunci aluang bunian (tempat rahasia). Siswa menganalisis peran strategis perempuan Minang sebagai manajer finansial kaum yang bertugas menyimpan, memelihara, dan mengelola harta pusaka serta menjaga kerahasiaan internal keluarga dari kebocoran informasi luar.
    • Visual Exploration & Keterampilan Mekanika Jala (Pusek Jalo):
      • Siswa mengamati dan memegang anyaman pusat jala penangkap ikan fungsional. Siswa menganalisis secara numerasi-mekanika: pusat jala adalah simpul utama yang mengikat seluruh untaian benang jaringan. Pegangan nelayan pada pusat jala harus kuat agar tebaran jala mengembang sempurna dan tangkapan ikan tidak lolos.
      • Siswa menarik benang merah filosofis: Bundo Kanduang sebagai pusek jalo wajib memiliki kapabilitas mengayom, menghimpun seluruh anggota keluarga besar, serta menjadi pusat rujukan panutan tempat bertanya anak cucu kemenakan.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Kunci melambangkan kepercayaan mutlak. Sudahkah kita melatih diri menjadi pribadi yang jujur, tepercaya, dan mampu memegang amanah serta rahasia teman atau keluarga di rumah?”

PERTEMUAN 3: Etika Konsultasi Merantau jo Sumarak dalam Nagari

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu menganalisis etika lisan konsultasi dua arah dalam sistem merantau (Kapai Tampek Batanyo, Kapulang Tampek Babarito) serta mengevaluasi esensi estetika kemuliaan perempuan sebagai Sumarak dalam Nagari.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa seorang laki-laki Minang yang hendak pergi merantau diwajibkan secara adat untuk meminta nasihat pengarahan terlebih dahulu kepada ibunya (Kapai tampek batanyo)?”
    • “Apa makna filosofis di balik ungkapan bahwa sebuah nagari atau rumah tangga akan kehilangan kecemerlangan cahayanya jika tidak ada kehadiran perempuan?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru meminta siswa duduk berpasangan laki-laki dan perempuan untuk bersiap mensimulasikan tata cara berkomunikasi yang santun sesuai pituah kehalusan parangai.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Permainan Peran Etika Merantau (Role Play – Kapai jo Kapulang):
      • Skenario A (Kapai tampek batanyo): Siswa laki-laki memperagakan gestur motorik santun sungkem meminta izin dan arahan tempat tujuan merantau kepada siswa perempuan (berperan sebagai Mandeh/Ibu).
      • Skenario B (Kapulang tampek babarito): Siswa laki-laki mensimulasikan kepulangan dari tanah rantau dan mengabarkan secara jujur dan detail segala suka-duka pengalaman hidup serta hasil usahanya kepada ibu di rumah gadang.
    • Visual Exploration Nilai Keindahan (Sumarak dalam Nagari): Siswa membedah arti kata sumarak (berseri, bercahaya, kemuliaan, kemegahan). Siswa melakukan analisis studi kasus sosial: membandingkan kondisi psikologis rumah tangga yang diurus oleh ibu dengan rumah yang kosong tanpa kehadiran sosok ibu. Siswa mengonstruksi pemahaman bahwa eksistensi perempuan adalah basis kemegahan moral sebuah peradaban Nagari.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Nasihat ibu adalah kompas keselamatan di perantauan. Bagaimana cara kita menghargai setiap tetes keringat pengorbanan dan untaian doa ibu yang mendidik kita setiap hari?”

PERTEMUAN 4: Tanggung Jawab Spiritual (Unduang-Unduang jo Payuang Panji)

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mengoreksi peran edukasi spiritual perempuan dalam menuntun rukun Islam (Unduang-Unduang ka Madinah) dan mengarahkan keselamatan bekal akhirat kaum keturunannya (Payuang Panji ka Sarugo).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa perangkat mukena (Talakuang) dijadikan simbol pakaian Unduang-Unduang ka Madinah bagi perempuan Minangkabau?”
    • “Bagaimana cara seorang ibu mengaplikasikan fungsi pelindung Payuang Panji ka Sarugo dalam mendidik akhlak anak di era modern saat ini?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam suasana religius. Guru menampilkan properti mukena (talakuang) putih bersih sebagai stimulus visual kesucian niat ibadah.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Analisis Literasi Spiritual Pemenuhan Rukun Islam:
      • Siswa mengidentifikasi istilah Unduang-unduang sebagai kain kerudung/mukena (talakuang). Siswa membedah makna filosofis: perempuan Minangkabau bertanggung jawab penuh mendidik moral, membekali pengetahuan, dan menyuntikkan motivasi material-spiritual agar anak keturunannya mampu menunaikan ibadah haji ke Baitullah (Rukun Islam Kelima).
    • Studi Kasus Benteng Akhlak (Payuang Panji ka Sarugo):
      • Siswa menelaah kiasan payung panji keselamatan sebagai pelindung kaum dari panasnya siksa api neraka. Siswa berdiskusi kelompok merumuskan strategi bagaimana seorang ibu memberikan pengajaran agama, kelembutan belaian kasih sayang, serta benteng moralitas yang sehat guna membimbing anak cucu mencapai kebahagiaan masa depan yang kekal di akhirat.
    • Refleksi Simbolik Basuntiang Nan Salapan: Siswa menyimpulkan totalitas keluhuran 12 lambang matrilineal (Limpapeh, amban puruak, pagangan kunci, pusek jalo, dst.) sebagai mahkota kemuliaan moral yang wajib diamalkan oleh perempuan Minang di mana pun berada demi menjaga kelestarian budaya ABS-SBK.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Refleksi Akhir Sesi (Deep Learning): Guru memandu refleksi penutup bab: “Surga di bawah telapak kaki ibu karena beban tanggung jawab pengasuhan spiritualnya yang sangat berat (ka payuang panji ka sarugo). Sebagai anak, aksi nyata kepatuhan dan bakti apa yang akan kita berikan kepada ibu kita mulai hari ini?”

III. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Analisis Semiotika Matrilineal & Esai Kritis)

Siswa menyelesaikan uji lembar kerja mandiri berupa analisis makna lambang (isian dan esai komparatif): merinci arti fungsional 6 simbol matrilineal (Limpapeh, Pusek Jala, Pagangan Kunci, dst.) serta menuliskan solusi kritis menghadapi degradasi moral pergaulan remaja berlandaskan pituah parangai laku.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Analisis Filosofi Limpapeh & BundoMampu menguraikan arti tiang tengah penopang struktur rumah tangga serta mengamalkan perilaku tenang tidak suka bergunjing.Mengetahui istilah limpapeh sebagai tiang besar, namun belum mampu mengaitkannya dengan kestabilan emosi kedamaian rumah.Bersikap tidak sopan, suka kelayapan/bergunjing, dan mengabaikan figur keteladanan Mandeh Sako.
2Pemahaman Akuntansi Amban PuruakSangat paham fungsi perempuan sebagai wadah penyimpan harta pusaka, pelestari kebesaran soko, dan penjaga rahasia kaum.Memahami perempuan sebagai pemegang kunci keuangan, namun kesadaran menjaga kerahasiaan internal keluarga masih kurang.Boros, tidak amanah mengelola titipan barang, atau merusak stabilitas ekonomi kelompok.
3Kecakapan Kepemimpinan Pusek JaloMahir merasionalkan simulasi jala ikan terhadap kemampuan menghimpun, mengayom, dan menjadi pusat panutan kemenakan.Mampu memahami fungsi jala, namun belum terampil menyimulasikan cara menyelesaikan masalah konflik pertemanan secara seimbang.Bersikap egois, memecah belah persatuan kelompok kelas, dan enggan menjadi panutan yang baik.
4Internalisasi Edukasi Spiritual (Unduang)Konsisten menjaga shalat fardhu, rajin mengaji, taat aturan agama-adat, serta hormat patuh mutlak pada perintah orang tua.Taat beribadah ritual di sekolah, namun pembiasaan tutur bahasa lemah lembut kepada ibu di rumah masih sering luput.Melawan perintah orang tua, abai pada pengajaran agama, serta melanggar batas norma asusila.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

REFLEKSI UTUH BAB X (LAMBANG MATRILINEAL MINANGKABAU)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah pertemuan keempat Bab X tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab X mengenai Lambang Matrilineal Minangkabau. Melalui bab ini, mereka belajar memuliakan kedudukan perempuan sebagai tiang penopang keutuhan keluarga (Limpapeh), pengelola amanah harta pusaka (Amban Puruak), pusat panutan keluarga (Pusek Jalo), cahaya kemuliaan nagari (Sumarak), serta pendidik utama moral spiritual anak menuju keselamatan akhirat (Unduang-unduang jo Payuang Panji). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda (terutama wanita) menunjukkan perangai yang tenang, sopan, menjaga kehormatan diri, dan tidak suka bergunjing/kelayapan (Limpapeh).[ ][ ]
2Ananda menunjukkan sikap jujur, tepercaya, terampil menjaga rahasia, serta amanah dalam merawat barang milik keluarga (Amban Puruak).[ ][ ]
3Ananda memiliki etika berkomunikasi yang baik, rajin meminta izin/nasihat orang tua sebelum pergi, serta patuh mendengarkan (Batanyo-Babarito).[ ][ ]
4Ananda rajin menjalankan ibadah keagamaan (shalat/mengaji), menunjukkan moralitas yang sehat, serta berbakti patuh pada ibu (Payuang ka Sarugo).[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab X:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap kemunculan rasa hormat anak kepada ibu, kehalusan budi bahasa, dan kedewasaan tanggung jawab moralnya di rumah minggu ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB XI

TATA CARA UPACARA ADAT MINANGKABAU (UPACARA KEMATIAN)

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit) + 1 Minggu Tugas Projek
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Konsep Kelakuan Simbolik, Jenis Upacara Nagari, dan Adat Pemberitahuan (Kaba Buruak).
    • Pertemuan 2 : Adat Janguak Manjanguak (Peran Bako, Sumandan, jo Pokok) serta Protokol Memandikan Jenazah.
    • Pertemuan 3 : Metode Sains Tradisional Mancabiak Kapan, Adat Mengkafani, jo Protokol Ekologis Menguburkan Jenazah.
    • Pertemuan 4 : Tata Cara Shalat Jenazah, Keimaman Anak Kandung, jo Praktik Sastra Lisan Pidato Pasambahan Pakubuan.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Berakhlak Mulia & Takwa: Menginternalisasi hakikat kefanaan makhluk bernyawa dan ketetapan takdir Allah (QS. Al-Anbiya: 35), serta berkomitmen mempersiapkan diri menjadi anak saleh penolong orang tua (HR. Al-Bukhari & Muslim).
    • Kompetensi Gotong Royong & Literasi Bahasa: Membina kepedulian sosial tinggi untuk meringankan beban sesama saat terjadi musibah duka (Kandak ALLAH nan balaku), sigap membantu tanpa diminta, serta melestarikan tata cara birokrasi lisan/pasambahan adat Minangkabau.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Bab XI.
    • Media Pendukung: Model kain kafan tiruan, talam/baki, wadah ember/timba/jeruk purut, transkrip naskah Pasambahan Kematian, kain beludru hitam penutup keranda, sekop/tembilang tiruan, dan gawai untuk perekaman projek video digital.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi fungsional.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN INTEGRATIF 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Aktivitas Kolektif Upacara jo Adat Pemberitahuan Duka

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu merasionalkan definisi upacara sebagai kelakuan simbolik yang terstruktur, memerinci 4 jenis upacara besar di Minangkabau, serta menguji urutan taktis penyebaran berita duka (kaba buruak bahambauan).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mendasar dari reaksi sosial masyarakat ketika mendengar kaba baiak dibandingkan dengan saat mendengar kaba buruak?”
    • “Mengapa dalam upacara kematian Minangkabau, khalayak ramai diwajibkan datang melayat secara spontan tanpa perlu menunggu lembaran undangan resmi?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tegap tenang, memimpin doa, dan membaca QS. Al-Anbiya: 35 mengenai hakikat setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati sebagai cobaan duniawi.
    • Siswa meresapi bait petuah ketetapan takdir: “Indak dapek sarimpang padi, batuang babalah kaparaku… Indak dapek bakandak hati, kandak ALLAH nan balaku”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Klasifikasi Upacara: Siswa menelaah definisi upacara sebagai aktivitas sistematik berwujud kelakuan simbolik kelompok. Siswa memetakan 4 variasi pesta/upacara rakyat di Minangkabau: (1) Upacara Perkawinan, (2) Upacara Kelahiran, (3) Upacara Batagak Gala, dan (4) Upacara Kematian (Persembahan terakhir adat bagi kaum).
    • Simulasi Alur Informasi Sosial (Kaba Buruak Bahambauan): Siswa menganalisis petuah “Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambauan”. Siswa mensimulasikan transisi pemanfaatan media komunikasi pemberitahuan kematian tradisional (keterampilan motorik: memukul instrumen tontong atau aguang di nagari) menuju sistem modern (menggunakan pengeras suara mikrofon masjid/surau terdekat secara lantang, jelas, dan khidmat) sehingga khalayak datang melayat serentak tanpa diundang.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Mendengar kabar duka memicu kewajiban kita untuk segera bertindak membantu. Bagaimana refleks kepedulian sosial kita selama ini ketika melihat ada teman sekelas yang sedang mengalami kesusahan atau kemalangan?”

PERTEMUAN 2: Strata Etika Janguak Manjanguak jo Adat Memandikan Jenazah

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan peran pihak Bako, Sumandan, jo Si Pokok (tuan rumah), merinci 7 logistik material mandi, serta mengoreksi penugasan anak muda yang capek kaki ringan tangan dalam organisasi Kongsi Kematian.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa saja bawaan wajib yang harus dibawa oleh pihak Bako ketika datang melayat ke rumah duka, dan apa fungsi lambangnya?”
    • “Sebutkan karakteristik ideal anak muda Minangkabau dalam menghadapi urusan kemasyarakatan menurut petuah ‘capek kaki ringan tangan‘!”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam suasana duka, lalu melantunkan pantun pengingat ajal: “Bungo mawar bungo melati, tumbuah di sampiang pohon angsano… Sia nan hiduik pastikan mati, bilo suratan aja pun tibo”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Permainan Peran Rombongan Melayat (Role Play – Bako jo Sumandan): Siswa perempuan memperagakan peran Bako (keluarga ayah) yang datang berombongan dengan muka jernih dan hati suci membawa hantaran talam di atas kepala (dijunjung dengan talam) berisi selembar kain kafan pelapis, kapas, bunga, sabun, dan beras bungkusan sapu tangan. Siswa melatih aturan pakaian: baju kurung dan berkerudung kain bugis (atau bugis kosong jika jenazah adalah Penghulu), serta pemakaian tangkuluak kain palekat bagi warga kampung. Satu orang utusan bako wajib mendampingi prosesi hingga jenazah selesai dikuburkan.
    • Analisis Birokrasi Sosial (Kongsi Kematian): Siswa menganalisis fungsi gerakan pemuda yang capek kaki ringan tangan (atau tim Kongsi Kematian kelurahan) yang sigap bergerak mencari bunga rampai, menjemput air, menyiapkan osongan (keranda), dan menggali kubur (“alun disuruah inyo alah pai, alun dipanggia inyo alah datang”) tanpa merusak tatanan properti sosial.
    • Protokol Memandikan (Numerasi Logistik): Siswa merinci 7 alat mandi: bangku panjang, ember air bersih, timba, sabun, kain basahan, wangi-wangian, dan jeruk purut/kapas. Siswa menegaskan hukum bahwa jenazah wajib dimandikan secara tertutup hanya oleh keluarga inti/muhrim terdekat (Mati bapak basanda anak, mati anak basanda bapak). Siswa mensimulasikan peran Juru Bicara keluarga yang mengumumkan secara santun di depan khalayak bahwa seluruh perlengkapan memandikan telah siap operasional.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Adat janguak manjanguak mengedepankan keringanan tangan untuk memberi bantuan fisik (beras dan kain kafan). Bagaimana nilai gotong royong duka ini mempererat rasa kekeluargaan antar-warga di ranah Minang?”

PERTEMUAN 3: Tata Cara Mengkafani, Menyolatkan, jo Aturan Ekologis Menguburkan Jenazah

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendemonstrasikan prosedur pembungkusan jenazah (mancabiak kapan), menguji rukun gerakan shalat jenazah berdiri tanpa ruku’/sujud, serta memerinci teknik ekologis penggalian liang lahat dan liang parit sesuai kondisi kontur tanah.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa pinggiran kain kafan dirobek (mancabiak kapan) untuk dijadikan tali pengikat sebanyak 5 buah? Bagian tubuh mana saja yang wajib diikat?”
    • “Bagaimana cara para penggali menentukan pilihan penggunaan antara model ‘Liang Lahat’ (menyamping) dengan ‘Liang Parit’ (ke bawah) berdasarkan struktur tanah?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengajak siswa merenungi petuah pasrah akidah: “Abdullah namonya pakia, indak banda dibaruah lai… Ajarullah datang mamanggia, indak dapek batanggang lai”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Simulasi Motorik Mengkafani (Mancabiak Kapan): Siswa mempraktikkan cara menyiapkan kain kafan putih sederhana penolakan pemborosan (3 lapis untuk pria, 5 lapis untuk wanita). Mereka menyimulasikan perobekan pinggiran kain tanpa jahitan (mancabiak kapan) diawali basmalah menjadi 5 tali pengikat utama (Numerasi posisi ikatan: kepala/atas, bahu, pinggang, paha/pinggul, dan kaki/bawah). Lapisan kain dilapisi wangi-wangian dan dialas kapas agar empuk sebelum dibungkus rapat (dikocong).
    • Praktik Rukun Shalat Jenazah: Siswa menyusun formasi shalat jenazah. Siswa melatih posisi berdiri imam: tepat di depan kepala jika jenazah pria, dan tepat di bagian pertengahan tubuh/pinggang jika jenazah wanita. Siswa mempraktikkan 7 rukun shalat jenazah berdiri tegak (tanpa ruku’ dan sujud): Takbir 4x, membaca Al-Fatihah, membaca shalawat nabi, membaca doa jenazah, dan diakhiri dengan salam. Siswa merenungkan aib sosial jika anak laki-laki kandung tidak mampu menjadi imam bagi orang tuanya sendiri.
    • Peta Arsitektur Ekologis Kubur (Pandam Pakubuan): Siswa membedah teknik fardhu kifayah penggalian tanah sedalam 1,70 hingga 2 meter menggunakan sekop, pacul, dan tembilang (alat penggali liang lahat). Siswa memparalelkan 2 tipe liang berdasarkan kontur tanah nagari:
      • Tanah Keras/Liat \(\rightarrow \) Liang Lahat: Membuat lubang menjorok ke samping mengarah ke kiblat, tempat jenazah diletakkan ditentang dinding kubur, lalu dipasang papan penutup.
      • Tanah Pasir/Mudah Longsor \(\rightarrow \) Liang Parit: Membuat lubang tegak lurus ke bawah di tengah-tengah kuburan dengan sekat peninggian sisi ±40 cm di kanan-kirinya.
    • Simulasi Penurunan Jenazah: Siswa memperagakan posisi 3 orang di dalam liang yang bertugas menyambut jenazah secara perlahan (mendahulukan bagian kaki), memiringkan tubuh ke sisi kanan menghadap kiblat, menempelkan pipi ke tanah dengan ganjalan tanah, membuka tali ikatan kocong, menutup dengan papan lahat yang telah disiram air jeruk purut (dilimaui), lalu menimbunnya dengan tanah yang dipadatkan sembari diinjak-injak, serta menanam pohon puding di bagian kepala dan kaki sebagai nisan sementara (batu mejan). Anak almarhum melintas 3 kali di bawah kolong tandu sebelum usungan berjalan demi memutus trauma psikologis memimpikan arwah.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Ketika kain kafan sudah dikocong dan tali diikat, berakhirlah kesempatan kita di dunia. Apa kontribusi kebaikan terbaik yang ingin kamu wariskan agar selalu dikenang oleh teman-temanmu?”

PERTEMUAN 4: Klinik Sastra Pasambahan jo Pidato Pakubuan Kematian

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu melatih kelancaran lisan berlandaskan sastra, serta mendemonstrasikan transkrip dialog tata cara birokrasi Pasambahan Adat Barundiang Pangubuan (Musyawarah Pemakaman) jo Pidato Pakubuan secara khidmat dan seirama antara Sipangka dan Karib-Bait.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mekanisme penyampaian pidato pakubuan (pemakaman) antara kematian seorang Penghulu/Datuak dengan kematian masyarakat umum?”
    • “Mengapa sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, pihak keluarga wajib menyampaikan sepatah kata permohonan maaf terkait urusan utang-piutang materil almarhum?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membagikan transkrip dokumen tertulis contoh pidato pasambahan duka yang terdiri dari dua skenario (Rundingan Bako menawarkan kuburan dan Pasambahan pasca-penguburan jenazah).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Struktur Pidato Pakubuan: Siswa menelaah esensi pasambahan adat kematian sebagai seni berpidato yang memuat makna tersurat dan tersirat menggunakan petatah-petitih dan intonasi indah (kato suko rila). Siswa memerinci aturan: untuk kematian Datuak disampaikan saling berbalas oleh 2 orang si pokok (Sipangka jo Siujuang), sedangkan untuk warga umum hanya disampaikan tunggal oleh 1 orang Sipangka.
    • Klinik Lisan Role Play 1 (Rundingan Bako – Penawaran Kubur): Dua siswa maju memperagakan dialog interaksi transkrip 1:
      • Datuk Panjang (Pihak bako/alek): “Datuk Bandaro, pasambahan tibo bakeh datuk…” (Menawarkan agar jenazah dikuburkan di pandam pakuburan kaum suku Rang Koto).
      • Datuk Bandaro (Sipangka): Menolak secara halus karena anak almarhum kuat menahan agar dikuburkan di dekat mereka (“di mano batang taguliang, disinan tindawan tumbuah… nak dipandam pakuburan anaknyo sajolah di salamikkan”), lalu diakhiri kesepakatan damai menutup rundingan.
    • Klinik Lisan Role Play 2 (Pasambahan Pasca-Penguburan – Serah Terima Maaf & Utang): Dua siswa lain memperagakan dialog transkrip 2 antara ahli waris (Sipangka) dan pelayat (Karib-Bait):
      • Malin Mangkuto (Sipangka): Melantunkan pidato permohonan maaf atas kesalahan lisan/motorik almarhum semasa hidup: “…Allah Ta’ala basipat Qadim, manusia basipat khilaf. Kok ado nan khilaf khilafat, salah tangan nan mangakok, capek kaki nan malangkah ataupun muluik nan bakato, nan mintak rilah jo ma’af…”. Serta mengumumkan jika ada utang piutang materi agar melapor ke keluarga demi membebaskan dosa almarhum.
      • Sutan Bagindo (Karib-Bait): Merespons balik membawa kata mufakat dari seluruh niniak mamak pelayat bahwa mereka telah memaafkan kesalahan almarhum secara tulus ikhlas (“Nan kami alah kami maafkan… di sipokok saba dipabanyak”) serta menutup perundingan secara baparantian.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Refleksi Akhir Bab (Deep Learning): Guru memandu refleksi penutup: “Pasambahan kematian mengajarkan akuntabilitas moral untuk membersihkan utang piutang dan kesalahan almarhum sebelum menghadap Pencipta. Mengapa kita harus membiasakan diri meminta maaf dengan segera jika berbuat salah kepada teman sekelas tanpa menundanya?”

III. TUGAS KELOMPOK PROJEK (DEEP LEARNING LITERASI DIGITAL)

  1. Tugas Berkelompok (4-5 Siswa): Lakukanlah simulasi praktik salah satu tahapan upacara kematian tradisional Minangkabau yang kamu pelajari (misal: simulasi pendeclamasian Pasambahan Barundiang Pakubuan atau simulasi tata cara mengkafani jenazah yang higienis-syar’i).
  2. Produksi Konten Video Pendek: Rekam aktivitas praktik kelompokmu tersebut menggunakan kamera gawai menjadi sebuah video dokumenter pendek berdurasi 3-5 menit. Pastikan artikulasi lisan bahasa Minang terdengar jelas, khidmat, dan sesuai pakem petuah adat.
  3. Upload Media Sosial: Unggah hasil video edukasi tersebut ke media sosial (YouTube/Instagram) kelompok atau sekolah sebagai aksi nyata kontribusi literasi digital generasi muda dalam melestarikan upacara tradisi adat Minangkabau di era modern.

IV. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja Teatrikal Pasambahan & Logistik Duka)

Siswa dinilai secara berpasangan melalui uji petik kelancaran lisan melantunkan potongan draf Pasambahan Kematian/Barundiang Pangubuan, serta penilaian tertulis mengenai pemetaan 5 tahap pengurusan jenazah secara runtut sesuai syara’-adat.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Protokol Kapan jo Shalat JenazahTepat merinci 5 lokasi ikatan tali, melaraskan wangi-wangian kapas, mempraktikkan rukun shalat berdiri tegap, posisi imam lurus jender.Memahami langkah pengafanan, namun posisi letak berdiri imam shalat jenazah pria/wanita masih sering terbalik.Tidak tahu rukun shalat jenazah, melakukan ruku’ atau sujud saat simulasi, atau tidak paham materi mancabiak kapan.
2Sains Ekologis Penguburan (Lahat/Parit)Mahir membedakan yurisdiksi pengerjaan Liang Lahat (tanah keras) dan Liang Parit (tanah pasir), serta tertib memiringkan jenazah ke kiblat.Mengetahui fardhu kifayah kubur, namun penempatan ganjal tanah dan urutan siraman jeruk purut papan penutup masih keliru.Mengubur jenazah asal-asalan, tidak tahu arah kiblat, atau membiarkan tali pocong terikat ketat di dalam liang lahat.
3Kelancaran Lisan Pasambahan KematianMelantunkan dialog pasambahan duka secara fasih, intonasi khidmat, pelafalan diksi kiasan tepat (di mano batang taguliang…), duduak bersila tegap.Mampu membaca transkrip pasambahan duka antara Malin dan Sutan, namun intonasi suara masih tergesa-gesa atau canggung.Gagap membaca naskah, tidak serius/tertawa-tawa saat simulasi duka, dan posisi duduak lunglai bersandar.
4Kualitas Produk Video Projek (Digital)Video projek memuat edukasi upacara adat duka dengan alur jelas, audio bersih khidmat, dan sukses mengunggah di platform medsos.Video memuat cara pengurusan jenazah, namun kualitas editing visual/audio masih kurang rapi atau porsi pasambahan adat terpotong.Gagal memproduksi video kelompok, tidak ikut bekerja sama, atau konten video melanggar nilai kesopanan kesantunan duka.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 2: REFLEKSI UTUH BAB XI (TATA CARA UPACARA KEMATIAN ADAT)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah seluruh pertemuan Bab XI tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab XI mengenai Tata Cara Upacara Kematian Menurut Adat Minangkabau. Melalui bab ini, mereka belajar memahami hakikat kematian, melayatan duka (Kaba buruak), memandikan, membungkus kain kafan sederhana anti-boros, menjadi imam shalat jenazah (Anak Saleh), menggali kubur yang aman secara ekologis, serta melatih kelancaran lisan musyawarah pemakaman (Pasambahan Adat). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menunjukkan kepekaan empati (spontan peduli, menjenguk, atau membantu jika mendengar ada kabar duka cita/kemalangan warga).[ ][ ]
2Ananda (terutama laki-laki) rajin melatih hafalan doa shalat, beribadah tertib, dan mempersiapkan diri menjadi anak shaleh penolong orang tua.[ ][ ]
3Ananda bersikap jujur, amanah dalam bertanggung jawab menyelesaikan janji, tugas, atau urusan pinjaman barang milik temannya (Akuntabilitas).[ ][ ]
4Ananda bersikap khidmat, hormat, patuh pada tatanan aturan syariat agama Islam, serta ikhlas menerima ketetapan takdir Allah SWT.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab XI:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap kemunculan rasa kemandirian ibadah anak, kesediaan membantu urusan duka/sosial, dan kehalusan budi bahasanya setelah menyelesaikan bab upacara kematian ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

BAB XI

TATA CARA UPACARA ADAT MINANGKABAU (UPACARA KEMATIAN)

I. INFORMASI UMUM

  • Penyusun : [Nama Anda]
  • Institusi : [Nama Sekolah Anda]
  • Tahun Penyusunan : 2026
  • Jenjang/Kelas : SMP / VIII (Delapan) – Fase D
  • Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 40 Menit) + 1 Minggu Tugas Projek
  • Materi Pokok:
    • Pertemuan 1 : Konsep Kelakuan Simbolik, Jenis Upacara Nagari, dan Adat Pemberitahuan (Kaba Buruak).
    • Pertemuan 2 : Adat Janguak Manjanguak (Peran Bako, Sumandan, jo Pokok) serta Protokol Memandikan Jenazah.
    • Pertemuan 3 : Metode Sains Tradisional Mancabiak Kapan, Adat Mengkafani, jo Protokol Ekologis Menguburkan Jenazah.
    • Pertemuan 4 : Tata Cara Shalat Jenazah, Keimaman Anak Kandung, jo Praktik Sastra Lisan Pidato Pasambahan Pakubuan.
  • Profil Lulusan (Fase D – Kurikulum Nasional):
    • Kompetensi Berakhlak Mulia & Takwa: Menginternalisasi hakikat kefanaan makhluk bernyawa dan ketetapan takdir Allah (QS. Al-Anbiya: 35), serta berkomitmen mempersiapkan diri menjadi anak saleh penolong orang tua (HR. Al-Bukhari & Muslim).
    • Kompetensi Gotong Royong & Literasi Bahasa: Membina kepedulian sosial tinggi untuk meringankan beban sesama saat terjadi musibah duka (Kandak ALLAH nan balaku), sigap membantu tanpa diminta, serta melestarikan tata cara birokrasi lisan/pasambahan adat Minangkabau.
  • Sarana & Prasarana:
    • Buku Utama: Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan Fase D kelas VIII, Penulis: Muhammad Ratmil, Penerbit: PT Grantha Paco Nusantara, Bab XI.
    • Media Pendukung: Model kain kafan tiruan, talam/baki, wadah ember/timba/jeruk purut, transkrip naskah Pasambahan Kematian, kain beludru hitam penutup keranda, sekop/tembilang tiruan, dan gawai untuk perekaman projek video digital.
  • Model Pembelajaran: Experiential Learning melalui metode Visual Exploration, permainan peran kebersamaan, dan keterampilan motorik terintegrasi numerasi fungsional.

II. KOMPONEN INTI (DESAIN INTEGRATIF 4 PERTEMUAN)

PERTEMUAN 1: Aktivitas Kolektif Upacara jo Adat Pemberitahuan Duka

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu merasionalkan definisi upacara sebagai kelakuan simbolik yang terstruktur, memerinci 4 jenis upacara besar di Minangkabau, serta menguji urutan taktis penyebaran berita duka (kaba buruak bahambauan).
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mendasar dari reaksi sosial masyarakat ketika mendengar kaba baiak dibandingkan dengan saat mendengar kaba buruak?”
    • “Mengapa dalam upacara kematian Minangkabau, khalayak ramai diwajibkan datang melayat secara spontan tanpa perlu menunggu lembaran undangan resmi?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membuka kelas dengan meminta siswa duduk tegap tenang, memimpin doa, dan membaca QS. Al-Anbiya: 35 mengenai hakikat setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati sebagai cobaan duniawi.
    • Siswa meresapi bait petuah ketetapan takdir: “Indak dapek sarimpang padi, batuang babalah kaparaku… Indak dapek bakandak hati, kandak ALLAH nan balaku”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration & Klasifikasi Upacara: Siswa menelaah definisi upacara sebagai aktivitas sistematik berwujud kelakuan simbolik kelompok. Siswa memetakan 4 variasi pesta/upacara rakyat di Minangkabau: (1) Upacara Perkawinan, (2) Upacara Kelahiran, (3) Upacara Batagak Gala, dan (4) Upacara Kematian (Persembahan terakhir adat bagi kaum).
    • Simulasi Alur Informasi Sosial (Kaba Buruak Bahambauan): Siswa menganalisis petuah “Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambauan”. Siswa mensimulasikan transisi pemanfaatan media komunikasi pemberitahuan kematian tradisional (keterampilan motorik: memukul instrumen tontong atau aguang di nagari) menuju sistem modern (menggunakan pengeras suara mikrofon masjid/surau terdekat secara lantang, jelas, dan khidmat) sehingga khalayak datang melayat serentak tanpa diundang.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi mendalam: “Mendengar kabar duka memicu kewajiban kita untuk segera bertindak membantu. Bagaimana refleks kepedulian sosial kita selama ini ketika melihat ada teman sekelas yang sedang mengalami kesusahan atau kemalangan?”

PERTEMUAN 2: Strata Etika Janguak Manjanguak jo Adat Memandikan Jenazah

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu membedakan peran pihak Bako, Sumandan, jo Si Pokok (tuan rumah), merinci 7 logistik material mandi, serta mengoreksi penugasan anak muda yang capek kaki ringan tangan dalam organisasi Kongsi Kematian.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa saja bawaan wajib yang harus dibawa oleh pihak Bako ketika datang melayat ke rumah duka, dan apa fungsi lambangnya?”
    • “Sebutkan karakteristik ideal anak muda Minangkabau dalam menghadapi urusan kemasyarakatan menurut petuah ‘capek kaki ringan tangan‘!”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengondisikan kelas dalam suasana duka, lalu melantunkan pantun pengingat ajal: “Bungo mawar bungo melati, tumbuah di sampiang pohon angsano… Sia nan hiduik pastikan mati, bilo suratan aja pun tibo”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Permainan Peran Rombongan Melayat (Role Play – Bako jo Sumandan): Siswa perempuan memperagakan peran Bako (keluarga ayah) yang datang berombongan dengan muka jernih dan hati suci membawa hantaran talam di atas kepala (dijunjung dengan talam) berisi selembar kain kafan pelapis, kapas, bunga, sabun, dan beras bungkusan sapu tangan. Siswa melatih aturan pakaian: baju kurung dan berkerudung kain bugis (atau bugis kosong jika jenazah adalah Penghulu), serta pemakaian tangkuluak kain palekat bagi warga kampung. Satu orang utusan bako wajib mendampingi prosesi hingga jenazah selesai dikuburkan.
    • Analisis Birokrasi Sosial (Kongsi Kematian): Siswa menganalisis fungsi gerakan pemuda yang capek kaki ringan tangan (atau tim Kongsi Kematian kelurahan) yang sigap bergerak mencari bunga rampai, menjemput air, menyiapkan osongan (keranda), dan menggali kubur (“alun disuruah inyo alah pai, alun dipanggia inyo alah datang”) tanpa merusak tatanan properti sosial.
    • Protokol Memandikan (Numerasi Logistik): Siswa merinci 7 alat mandi: bangku panjang, ember air bersih, timba, sabun, kain basahan, wangi-wangian, dan jeruk purut/kapas. Siswa menegaskan hukum bahwa jenazah wajib dimandikan secara tertutup hanya oleh keluarga inti/muhrim terdekat (Mati bapak basanda anak, mati anak basanda bapak). Siswa mensimulasikan peran Juru Bicara keluarga yang mengumumkan secara santun di depan khalayak bahwa seluruh perlengkapan memandikan telah siap operasional.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Adat janguak manjanguak mengedepankan keringanan tangan untuk memberi bantuan fisik (beras dan kain kafan). Bagaimana nilai gotong royong duka ini mempererat rasa kekeluargaan antar-warga di ranah Minang?”

PERTEMUAN 3: Tata Cara Mengkafani, Menyolatkan, jo Aturan Ekologis Menguburkan Jenazah

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu mendemonstrasikan prosedur pembungkusan jenazah (mancabiak kapan), menguji rukun gerakan shalat jenazah berdiri tanpa ruku’/sujud, serta memerinci teknik ekologis penggalian liang lahat dan liang parit sesuai kondisi kontur tanah.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Mengapa pinggiran kain kafan dirobek (mancabiak kapan) untuk dijadikan tali pengikat sebanyak 5 buah? Bagian tubuh mana saja yang wajib diikat?”
    • “Bagaimana cara para penggali menentukan pilihan penggunaan antara model ‘Liang Lahat’ (menyamping) dengan ‘Liang Parit’ (ke bawah) berdasarkan struktur tanah?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru mengajak siswa merenungi petuah pasrah akidah: “Abdullah namonya pakia, indak banda dibaruah lai… Ajarullah datang mamanggia, indak dapek batanggang lai”.
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Simulasi Motorik Mengkafani (Mancabiak Kapan): Siswa mempraktikkan cara menyiapkan kain kafan putih sederhana penolakan pemborosan (3 lapis untuk pria, 5 lapis untuk wanita). Mereka menyimulasikan perobekan pinggiran kain tanpa jahitan (mancabiak kapan) diawali basmalah menjadi 5 tali pengikat utama (Numerasi posisi ikatan: kepala/atas, bahu, pinggang, paha/pinggul, dan kaki/bawah). Lapisan kain dilapisi wangi-wangian dan dialas kapas agar empuk sebelum dibungkus rapat (dikocong).
    • Praktik Rukun Shalat Jenazah: Siswa menyusun formasi shalat jenazah. Siswa melatih posisi berdiri imam: tepat di depan kepala jika jenazah pria, dan tepat di bagian pertengahan tubuh/pinggang jika jenazah wanita. Siswa mempraktikkan 7 rukun shalat jenazah berdiri tegak (tanpa ruku’ dan sujud): Takbir 4x, membaca Al-Fatihah, membaca shalawat nabi, membaca doa jenazah, dan diakhiri dengan salam. Siswa merenungkan aib sosial jika anak laki-laki kandung tidak mampu menjadi imam bagi orang tuanya sendiri.
    • Peta Arsitektur Ekologis Kubur (Pandam Pakubuan): Siswa membedah teknik fardhu kifayah penggalian tanah sedalam 1,70 hingga 2 meter menggunakan sekop, pacul, dan tembilang (alat penggali liang lahat). Siswa memparalelkan 2 tipe liang berdasarkan kontur tanah nagari:
      • Tanah Keras/Liat \(\rightarrow \) Liang Lahat: Membuat lubang menjorok ke samping mengarah ke kiblat, tempat jenazah diletakkan ditentang dinding kubur, lalu dipasang papan penutup.
      • Tanah Pasir/Mudah Longsor \(\rightarrow \) Liang Parit: Membuat lubang tegak lurus ke bawah di tengah-tengah kuburan dengan sekat peninggian sisi ±40 cm di kanan-kirinya.
    • Simulasi Penurunan Jenazah: Siswa memperagakan posisi 3 orang di dalam liang yang bertugas menyambut jenazah secara perlahan (mendahulukan bagian kaki), memiringkan tubuh ke sisi kanan menghadap kiblat, menempelkan pipi ke tanah dengan ganjalan tanah, membuka tali ikatan kocong, menutup dengan papan lahat yang telah disiram air jeruk purut (dilimaui), lalu menimbunnya dengan tanah yang dipadatkan sembari diinjak-injak, serta menanam pohon puding di bagian kepala dan kaki sebagai nisan sementara (batu mejan). Anak almarhum melintas 3 kali di bawah kolong tandu sebelum usungan berjalan demi memutus trauma psikologis memimpikan arwah.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Guru memandu refleksi: “Ketika kain kafan sudah dikocong dan tali diikat, berakhirlah kesempatan kita di dunia. Apa kontribusi kebaikan terbaik yang ingin kamu wariskan agar selalu dikenang oleh teman-temanmu?”

PERTEMUAN 4: Klinik Sastra Pasambahan jo Pidato Pakubuan Kematian

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu melatih kelancaran lisan berlandaskan sastra, serta mendemonstrasikan transkrip dialog tata cara birokrasi Pasambahan Adat Barundiang Pangubuan (Musyawarah Pemakaman) jo Pidato Pakubuan secara khidmat dan seirama antara Sipangka dan Karib-Bait.
  • Pertanyaan Pemantik:
    • “Apa perbedaan mekanisme penyampaian pidato pakubuan (pemakaman) antara kematian seorang Penghulu/Datuak dengan kematian masyarakat umum?”
    • “Mengapa sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, pihak keluarga wajib menyampaikan sepatah kata permohonan maaf terkait urusan utang-piutang materil almarhum?”

Langkah Pembelajaran (Deep Learning Terintegrasi)

  1. Kegiatan Pendahuluan – Mindful Opening (10 Menit)
    • Guru membagikan transkrip dokumen tertulis contoh pidato pasambahan duka yang terdiri dari dua skenario (Rundingan Bako menawarkan kuburan dan Pasambahan pasca-penguburan jenazah).
  2. Kegiatan Inti – Meaningful & Joyful Exploration (45 Menit)
    • Visual Exploration Struktur Pidato Pakubuan: Siswa menelaah esensi pasambahan adat kematian sebagai seni berpidato yang memuat makna tersurat dan tersirat menggunakan petatah-petitih dan intonasi indah (kato suko rila). Siswa memerinci aturan: untuk kematian Datuak disampaikan saling berbalas oleh 2 orang si pokok (Sipangka jo Siujuang), sedangkan untuk warga umum hanya disampaikan tunggal oleh 1 orang Sipangka.
    • Klinik Lisan Role Play 1 (Rundingan Bako – Penawaran Kubur): Dua siswa maju memperagakan dialog interaksi transkrip 1:
      • Datuk Panjang (Pihak bako/alek): “Datuk Bandaro, pasambahan tibo bakeh datuk…” (Menawarkan agar jenazah dikuburkan di pandam pakuburan kaum suku Rang Koto).
      • Datuk Bandaro (Sipangka): Menolak secara halus karena anak almarhum kuat menahan agar dikuburkan di dekat mereka (“di mano batang taguliang, disinan tindawan tumbuah… nak dipandam pakuburan anaknyo sajolah di salamikkan”), lalu diakhiri kesepakatan damai menutup rundingan.
    • Klinik Lisan Role Play 2 (Pasambahan Pasca-Penguburan – Serah Terima Maaf & Utang): Dua siswa lain memperagakan dialog transkrip 2 antara ahli waris (Sipangka) dan pelayat (Karib-Bait):
      • Malin Mangkuto (Sipangka): Melantunkan pidato permohonan maaf atas kesalahan lisan/motorik almarhum semasa hidup: “…Allah Ta’ala basipat Qadim, manusia basipat khilaf. Kok ado nan khilaf khilafat, salah tangan nan mangakok, capek kaki nan malangkah ataupun muluik nan bakato, nan mintak rilah jo ma’af…”. Serta mengumumkan jika ada utang piutang materi agar melapor ke keluarga demi membebaskan dosa almarhum.
      • Sutan Bagindo (Karib-Bait): Merespons balik membawa kata mufakat dari seluruh niniak mamak pelayat bahwa mereka telah memaafkan kesalahan almarhum secara tulus ikhlas (“Nan kami alah kami maafkan… di sipokok saba dipabanyak”) serta menutup perundingan secara baparantian.
  3. Kegiatan Penutup – Reflective Closing (15 Menit)
    • Refleksi Akhir Bab (Deep Learning): Guru memandu refleksi penutup: “Pasambahan kematian mengajarkan akuntabilitas moral untuk membersihkan utang piutang dan kesalahan almarhum sebelum menghadap Pencipta. Mengapa kita harus membiasakan diri meminta maaf dengan segera jika berbuat salah kepada teman sekelas tanpa menundanya?”

III. TUGAS KELOMPOK PROJEK (DEEP LEARNING LITERASI DIGITAL)

  1. Tugas Berkelompok (4-5 Siswa): Lakukanlah simulasi praktik salah satu tahapan upacara kematian tradisional Minangkabau yang kamu pelajari (misal: simulasi pendeclamasian Pasambahan Barundiang Pakubuan atau simulasi tata cara mengkafani jenazah yang higienis-syar’i).
  2. Produksi Konten Video Pendek: Rekam aktivitas praktik kelompokmu tersebut menggunakan kamera gawai menjadi sebuah video dokumenter pendek berdurasi 3-5 menit. Pastikan artikulasi lisan bahasa Minang terdengar jelas, khidmat, dan sesuai pakem petuah adat.
  3. Upload Media Sosial: Unggah hasil video edukasi tersebut ke media sosial (YouTube/Instagram) kelompok atau sekolah sebagai aksi nyata kontribusi literasi digital generasi muda dalam melestarikan upacara tradisi adat Minangkabau di era modern.

IV. INSTRUMEN PENILAIAN (ASESMEN DEEP LEARNING)

A. Asesmen Sumatif (Unjuk Kerja Teatrikal Pasambahan & Logistik Duka)

Siswa dinilai secara berpasangan melalui uji petik kelancaran lisan melantunkan potongan draf Pasambahan Kematian/Barundiang Pangubuan, serta penilaian tertulis mengenai pemetaan 5 tahap pengurusan jenazah secara runtut sesuai syara’-adat.

B. Rubrik Otentik Proses Berpikir & Sikap (Authentic Assessment)

NoKomponen yang DinilaiSkor 3 (Sangat Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
1Protokol Kapan jo Shalat JenazahTepat merinci 5 lokasi ikatan tali, melaraskan wangi-wangian kapas, mempraktikkan rukun shalat berdiri tegap, posisi imam lurus jender.Memahami langkah pengafanan, namun posisi letak berdiri imam shalat jenazah pria/wanita masih sering terbalik.Tidak tahu rukun shalat jenazah, melakukan ruku’ atau sujud saat simulasi, atau tidak paham materi mancabiak kapan.
2Sains Ekologis Penguburan (Lahat/Parit)Mahir membedakan yurisdiksi pengerjaan Liang Lahat (tanah keras) dan Liang Parit (tanah pasir), serta tertib memiringkan jenazah ke kiblat.Mengetahui fardhu kifayah kubur, namun penempatan ganjal tanah dan urutan siraman jeruk purut papan penutup masih keliru.Mengubur jenazah asal-asalan, tidak tahu arah kiblat, atau membiarkan tali pocong terikat ketat di dalam liang lahat.
3Kelancaran Lisan Pasambahan KematianMelantunkan dialog pasambahan duka secara fasih, intonasi khidmat, pelafalan diksi kiasan tepat (di mano batang taguliang…), duduak bersila tegap.Mampu membaca transkrip pasambahan duka antara Malin dan Sutan, namun intonasi suara masih tergesa-gesa atau canggung.Gagap membaca naskah, tidak serius/tertawa-tawa saat simulasi duka, dan posisi duduak lunglai bersandar.
4Kualitas Produk Video Projek (Digital)Video projek memuat edukasi upacara adat duka dengan alur jelas, audio bersih khidmat, dan sukses mengunggah di platform medsos.Video memuat cara pengurusan jenazah, namun kualitas editing visual/audio masih kurang rapi atau porsi pasambahan adat terpotong.Gagal memproduksi video kelompok, tidak ikut bekerja sama, atau konten video melanggar nilai kesopanan kesantunan duka.

LEMBAR REFLEKSI MINGGUAN ORANG TUA

  • Nama Peserta Didik: ……………………………………………
  • Kelas: VIII (Delapan) SMP
  • Mata Pelajaran: Muatan Lokal Keminangkabauan
  • Nama Orang Tua/Wali: ……………………………………………

BAGIAN 2: REFLEKSI UTUH BAB XI (TATA CARA UPACARA KEMATIAN ADAT)

(Diberikan kepada orang tua pada akhir pekan setelah seluruh pertemuan Bab XI tuntas)

Yth. Ayah/Bunda/Amak di Rumah,

Putra-putri kita telah menuntaskan seluruh rangkaian materi Bab XI mengenai Tata Cara Upacara Kematian Menurut Adat Minangkabau. Melalui bab ini, mereka belajar memahami hakikat kematian, melayatan duka (Kaba buruak), memandikan, membungkus kain kafan sederhana anti-boros, menjadi imam shalat jenazah (Anak Saleh), menggali kubur yang aman secara ekologis, serta melatih kelancaran lisan musyawarah pemakaman (Pasambahan Adat). Mohon bantu Amak/Ayah untuk mengamati perkembangan sikap ananda di rumah dengan memberi tanda centang (\(\checkmark \)) pada kotak berikut:

NoPernyataan Pengamatan Sikap di RumahSudah TerlihatBelum TerlihatCatatan Kecil Amak / Ayah
1Ananda menunjukkan kepekaan empati (spontan peduli, menjenguk, atau membantu jika mendengar ada kabar duka cita/kemalangan warga).[ ][ ]
2Ananda (terutama laki-laki) rajin melatih hafalan doa shalat, beribadah tertib, dan mempersiapkan diri menjadi anak shaleh penolong orang tua.[ ][ ]
3Ananda bersikap jujur, amanah dalam bertanggung jawab menyelesaikan janji, tugas, atau urusan pinjaman barang milik temannya (Akuntabilitas).[ ][ ]
4Ananda bersikap khidmat, hormat, patuh pada tatanan aturan syariat agama Islam, serta ikhlas menerima ketetapan takdir Allah SWT.[ ][ ]

Pesan/Kesan Orang Tua untuk Akhir Bab XI:

“Bagaimana pengamatan Ayah/Bunda terhadap kemunculan rasa kemandirian ibadah anak, kesediaan membantu urusan duka/sosial, dan kehalusan budi bahasanya setelah menyelesaikan bab upacara kematian ini?”

………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………

KUNCI JAWABAN & PEDOMAN PENSKORAN ASESMEN SUMATIF

1. ASESMEN AKHIR SEMESTER 1 (GANJIL)

Kasus 1: Distraksi Gawai di Tengah Diskusi Kaum

  • Kunci Jawaban Pertanyaan 1:
    • Kesalahan Gestur Motorik: Rian melanggar pakem Adat Duduak kelas VIII, yaitu duduk tidak tegak, memalingkan wajah (anti-sosial), lunglai, dan mengabaikan forum demi benda mati.
    • Kesalahan Lisan & Sosial: Rian melakukan komunikasi sepihak tanpa baso-basi (memotong pembicaraan secara visual) dan melanggar prinsip Tenggang Raso (lamak di awak, katuju dek urang) karena mengabaikan hak bicara ketua kelas dan kenyamanan forum.
  • Kunci Jawaban Pertanyaan 2:
    • Urutan Langkah Refleks Motorik-Verbal:
      1. Mendengar getar gawai → tidak langsung menyambar gawai, melainkan menjeda respons selama 5 detik (double-check reflex).
      2. Menghadapkan tubuh penuh (madokan tubuah) ke arah forum/ketua kelas, lalu mengangkat tangan kanan dengan sopan untuk meminta izin/interupsi.
      3. Mengucapkan kata maaf secara lisan: “Maaf Datuk/Ketua, ada panggilan penting darurat yang harus saya periksa sekilas”.
      4. Memeriksa gawai secara cepat; jika tidak urgent, gawai wajib dimatikan/disimpan kembali ke saku guna mengembalikan fokus 100% pada musyawarah.

Kasus 2: Pelapisan Sosial jo Manipulasi Pakaian

  • Kunci Jawaban Pertanyaan 3:
    • Kesalahan Pakaian Gender: Siswa laki-laki tersebut menggunakan celana ketat jeans yang dikategorikan adat sebagai “membungkus tubuh”, bukan “menutup aurat” (pakaian longgar/lapang). Pakaian ketat merusak keluwesan motorik dan sirkulasi darah.
    • Kesalahan Strata Adat & Perhiasan: Penggunaan cincin emas besar oleh laki-laki hukumnya haram secara syara’ (pakaian eksklusif wanita) dan merusak marwah diri. Saat melayat jenazah Penghulu, ia wajib menggunakan pakaian longgar hitam beralas tangkuluak kain palekat, bukan pakaian pamer kekayaan.
  • Kunci Jawaban Pertanyaan 4:
    • Korelasi Hadis Nabi (Riya): Tindakan siswa tersebut melanggar hadis nabi dalam konstitusi Suruhan jo Larangan Adat yang berbunyi: “Siapa yang memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti” (HR. Ahmad & Abu Daud). Pakaiannya didorong oleh hawa nafsu kesombongan, sehingga secara adat ia dikategorikan sebagai orang yang melanggar Undang Adat Nan Salapan poin Sumbang-Salah perangai laku.

2. ASESMEN AKHIR SEMESTER 2 (GENAP)

Kasus 3: Kegagalan Logika “Itiak Pulang Patang” dalam Kelompok

  • Kunci Jawaban Pertanyaan 1:
    • Analisis Motif Ukiran Itiak Pulang Patang: Kelompok A gagal menginternalisasi filosofi itik yang selalu berjalan tertib beriringan di pematang sawah tanpa saling mendahului atau saling sikut (anti-sikut). Tim mengabaikan prinsip solidaritas kelompok: jika satu itik jatuh ke tebing, yang lain turun menjemput bersama (bak itiak jatuah ka tabiang). Ego satu anggota yang ingin menonjol sendiri merusak asas kebersamaan.
  • Kunci Jawaban Pertanyaan 2:
    • Sifat Dialektika Alam (Bakarano Bakajadian): Hukum alam bergerak dinamis berdasarkan sebab dan akibat. Sebab adanya tindakan individualis yang keluar dari ritme kayuhan bakiak beregu, melahirkan akibat runtuhnya kesetimbangan motorik mekanika papan, yang berujung pada kegagalan total (cilako basilang) dan kehancuran harmoni hubungan sosial antar-anggota tim.

Kasus 4: Pelanggaran Parameter Hukum jo Birokrasi Duka

  • Kunci Jawaban Pertanyaan 3:
    • Analisis Parameter Cupak Buatan: Tuntutan Hasan ditolak mentah-mentah secara adat. Hukum adat Minangkabau menganut azas egaliter dan keadilan mutlak tanpa tebang pilih (bakato bana, mahukum adia). Parameter Cupak Buatan menetapkan: “Tibo dimato indak dipiciangkan, tibo didado indak dibusuangka, tibo diparuik indak dikampihkan”. Status anak pejabat tidak boleh membelokkan parameter hukum; kesalahan mencontek (kicuah-kecong) wajib menerima sanksi objektif.
  • Kunci Jawaban Pertanyaan 4:
    • Akuntabilitas & Sanksi “Terjual Budi”: Dalam tatanan Islam dan adat, utang piutang dan kesalahan lisan (kalatiak ujuang lidah) wajib diselesaikan segera di dunia karena dosa antar-manusia tidak gugur sebelum dimaafkan. Jika dibiarkan, orang tersebut menerima status “terjual budi”—yaitu hilangnya seluruh kepercayaan masyarakat seumur hidup (sekali lancuang ka ujian, seumur hidup orang tak percaya). Pidato pakubuan (kato suko rila) adalah instrumen birokrasi terakhir ahli waris untuk menjamin pembebasan arwah almarhum dari siksa kubur akibat beban materi duniawi.

📐 PEDOMAN PENILAIAN SKOR (ASPEK KOGNITIF-ANALISIS)

  • Skor 3 (Sangat Baik): Jawaban tepat, analisis tajam, menghubungkan istilah sains/latin, dan mengutip minimal 2 petuah adat/hadis secara akurat.
  • Skor 2 (Cukup): Jawaban benar secara konsep, namun penjelasan filosofi atau analisis sebab-akibatnya kurang mendalam.
  • Skor 1 (Perlu Bimbingan): Jawaban keliru, dangkal, atau sekadar tebakan tanpa dasar teks materi adat ABS-SBK.

FORMAT LEMBAR PENILAIAN KINERJA PROJEK VIDEO DIGITAL

(Pegangan Guru untuk Pengambilan Nilai Lapangan Kelompok)

  • Kelompok / Kelas : Group …………. / VIII (Delapan) SMP
  • Nama Anggota Tim : 1. ……………………….. 3. ……………………….. 5. ………………………..
  • : 2. ……………………….. 4. ………………………..
  • Judul Projek Video : Dokumenter Praktik Permainan Tradisional/Upacara Adat …………………….
NoAspek Penilaian KinerjaIndikator Keberhasilan Projek DigitalSkala Skor (1 – 5)Catatan Guru Evaluasi
1Orisinalitas Pakem & KontenVideo memuat kebenaran alur adat (tanpa modifikasi ilegal), kejelasan kiasan filosofi, dan landasan materi ABS-SBK secara akurat.
2Artikulasi Lisan & GesturPelafalan diksi bahasa Minang/pasambahan terdengar khidmat, lancar, intonasi indah, posisi motorik tubuh duduak bersila/bersimpuh tegak.
3Kualitas Audio Visual (Teknis)Pengambilan gambar visual tajam, transisi editing rapi, audio instrumen musik bersih bebas dari kebisingan luar (noise-free).
4Kerja Sama Tim & SportivitasPembagian tugas anggota tim adil seimbang (sabarek saringan), menunjukkan kekompakan gerak, dan tidak ada aksi sikut menyudutkan.
5Publikasi Literasi DigitalSukses mengunggah (upload) produk video di platform media sosial resmi sekolah/kelompok sebagai aksi pelestarian budaya digital.

RUMUS PERHITUNGAN NILAI AKHIR (LAPANGAN):

\(\text{Nilai\ Akhir}=\frac{\text{Total\ Skor\ yang\ Diperoleh}}{25}\times 100\)